Harga Kontrak CPO di Bursa Malaysia Melemah

Harga Kontrak CPO di Bursa Malaysia Melemah
Foto: Ilustrasi Harga Kontrak CPO di Bursa Malaysia Melemah.

Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan pada perdagangan Senin (25/5/2026). Penurunan ini membalikkan tren penguatan pada sesi sebelumnya akibat tekanan dari penguatan mata uang Ringgit Malaysia dan koreksi harga minyak nabati di Bursa Dalian, China.

Penurunan harga komoditas ini terjadi secara menyeluruh pada berbagai waktu kontrak berjangka, seperti dilansir dari Investor Daily. Kontrak berjangka CPO untuk periode Juni 2026 merosot sebesar 20 Ringgit Malaysia menjadi 4.410 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Juli 2026 turun 17 Ringgit Malaysia ke level 4.446 Ringgit Malaysia per ton.

Pelemahan berlanjut pada kontrak Agustus 2026 yang terkoreksi 13 Ringgit Malaysia menjadi 4.473 Ringgit Malaysia per ton. Selanjutnya, kontrak September 2026 jatuh 9 Ringgit Malaysia ke angka 4.493 Ringgit Malaysia per ton, diikuti kontrak Oktober dan November 2026 yang masing-masing terpangkas 8 Ringgit Malaysia menjadi 4.517 dan 4.544 Ringgit Malaysia per ton.

Data dari Tradingview menunjukkan bahwa sentimen pasar ikut terbebani oleh merosotnya harga minyak mentah dunia ke level terendah dalam dua pekan terakhir. Penurunan harga minyak bumi tersebut dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terkait peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sementara pasar Chicago sedang libur untuk peringatan hari besar nasional AS.

Faktor lain yang memperberat pergerakan harga adalah penurunan kinerja ekspor kelapa sawit. Berdasarkan data dari surveyor kargo, volume pengiriman minyak sawit sepanjang periode 1 hingga 20 Mei mencatatkan penurunan berkisar antara 13,9 persen hingga 20,5 persen jika dibandingkan dengan capaian pada periode April.

Kondisi pasar juga diperparah oleh penurunan permintaan dari India yang berstatus sebagai importir minyak sawit terbesar di dunia. Volume impor minyak sawit India pada bulan April dilaporkan merosot 26 persen ke level terendah dalam empat bulan terakhir karena melandainya permintaan institusi dan menyempitnya diskon harga komoditas tersebut.

Kendati demikian, laju penurunan harga CPO sedikit tertahan oleh rencana pengetatan kebijakan ekspor dari Indonesia selaku produsen terbesar dunia secara bertahap pada Juni hingga Agustus sebelum berlaku penuh September mendatang. Rencana peningkatan mandatori biodiesel menjadi B50 di Indonesia mulai Juli serta kenaikan campuran biodiesel B15 di Malaysia pada Juni ikut menahan koreksi lebih dalam.

Artikel terkait

Rekomendasi