Harga Kontrak CPO Bursa Malaysia Anjlok Akibat Tekanan Pasar China

Harga Kontrak CPO Bursa Malaysia Anjlok Akibat Tekanan Pasar China
Foto: Ilustrasi Harga Kontrak CPO Bursa Malaysia Anjlok Akibat Tekanan Pasar China.

Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami penurunan signifikan pada Selasa (12/5/2026) akibat tekanan jual dari pasar minyak nabati China dan peningkatan stok domestik Malaysia. Pelemahan ini menghentikan tren penguatan yang sempat terjadi pada sesi perdagangan sebelumnya.

Data dari Bursa Malaysia Derivatives yang dilansir dari Investor Daily menunjukkan penurunan merata pada seluruh kontrak berjangka. Kontrak CPO untuk Mei 2026 merosot 44 Ringgit Malaysia menjadi 4.451 Ringgit per ton, sementara kontrak Juni 2026 turun 34 Ringgit menjadi 4.450 Ringgit per ton.

Koreksi harga juga berlanjut pada kontrak bulan-bulan berikutnya dengan rincian sebagai berikut:

Data Penutupan Kontrak Berjangka CPO (12/5/2026)
Kontrak BerjangkaPenurunan (Ringgit)Harga Akhir (Ringgit/Ton)
Juli 2026354.481
Agustus 2026284.504
September 2026264.515
Oktober 2026234.525

Sentimen negatif pasar terutama berasal dari aksi jual besar-besaran pada kontrak palm olein di bursa Dalian, China, selama jam perdagangan Asia. Kondisi ini diperparah oleh laporan peningkatan stok minyak sawit Malaysia pada April, yang merupakan kenaikan cadangan pertama dalam empat bulan terakhir.

Seorang pedagang di Kuala Lumpur menyoroti dampak pergerakan pasar di China terhadap harga komoditas tersebut di bursa regional.

"Pasar terbebani tekanan jual pada kontrak palm olein Dalian selama sesi perdagangan Asia," ujar seorang trader berbasis di Kuala Lumpur.

Meskipun harga CPO tertekan, harga minyak mentah dunia justru terpantau melonjak karena memudarnya harapan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga minyak mentah biasanya memberikan dukungan bagi CPO karena daya tarik komoditas ini sebagai bahan baku biodiesel meningkat.

Kinerja ekspor Malaysia pada awal Mei 2026 menunjukkan data yang beragam dari beberapa lembaga survei independen. Intertek Testing Services melaporkan kenaikan ekspor produk sawit sebesar 8,5 persen pada periode 1-10 Mei, namun AmSpec Agri Malaysia justru mencatat penurunan ekspor sebesar 10,8 persen pada periode yang sama.

Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) mengonfirmasi bahwa penumpukan stok terjadi lantaran penurunan angka ekspor yang berbarengan dengan lonjakan produksi serta peningkatan impor. Di sisi lain, nilai tukar ringgit yang melemah 0,31 persen terhadap dolar AS memberikan sedikit bantahan terhadap penurunan harga lebih lanjut bagi pembeli asing.

Artikel terkait

Rekomendasi