Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Senin (18/5/2026). Lonjakan ini dipicu oleh apresiasi harga minyak mentah dunia, depresiasi mata uang ringgit Malaysia, serta penguatan pasar minyak nabati secara global.
Dikutip dari Investor Daily, data penutupan BMD pada Senin (18/5/2026) menunjukkan kontrak berjangka CPO untuk Juni 2026 melonjak 101 Ringgit Malaysia menjadi 4.491 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak berjangka untuk Juli 2026 melesat 102 Ringgit Malaysia menuju angka 4.522 Ringgit Malaysia per ton.
Tren kenaikan juga diikuti oleh kontrak berjangka CPO Agustus 2026 yang meningkat 97 Ringgit Malaysia menjadi 4.534 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak September 2026, harga naik sebesar 93 Ringgit Malaysia ke level 4.542 Ringgit Malaysia per ton.
Selanjutnya, kontrak berjangka CPO Oktober 2026 menguat 84 Ringgit Malaysia menjadi 4.549 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO untuk November 2026 juga ikut terkerek naik 80 Ringgit Malaysia hingga menyentuh posisi 4.561 Ringgit Malaysia per ton.
Berdasarkan data Tradingview, harga minyak kelapa sawit mentah Malaysia ini melesat lebih dari 2% dan kembali melewati ambang batas 4.500 Ringgit Malaysia per ton. Pergerakan positif ini memperpanjang reli sekaligus menempatkan komoditas tersebut pada posisi tertinggi dalam sepekan terakhir.
Faktor lain yang menyokong penguatan ini adalah kenaikan kontrak palm oil di Bursa Dalian China serta peningkatan harga minyak kedelai (soyoil) di Chicago. Sentimen pasar turut mendapat dorongan dari lonjakan harga minyak dunia setelah upaya penyelesaian konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran dinilai menemui jalan buntu.
Situasi geopolitik tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global yang kemudian ikut mengerek harga komoditas minyak nabati. Kendati demikian, laju kenaikan harga CPO masih tertahan oleh pelemahan performa ekspor.
Laporan dari surveyor kargo AmSpec Agri Malaysia menunjukkan pengiriman minyak sawit dari Malaysia pada paruh pertama Mei mengalami penurunan sebesar 16,5% dibandingkan bulan sebelumnya. Tantangan terkait permintaan juga membayangi pasar menyusul data aktivitas ekonomi China pada April yang menunjukkan perlambatan.
Kondisi ekonomi China tersebut menjadi perhatian lantaran negara tersebut merupakan salah satu pasar utama minyak sawit dunia. Penurunan permintaan juga terjadi di India, di mana volume impor minyak sawit pada April merosot 26% dibanding Maret dan menyentuh level terendah dalam empat bulan terakhir.
Penurunan di India disebabkan oleh menyusutnya permintaan dari sektor institusi serta mengecilnya selisih harga antara minyak sawit dengan minyak nabati kompetitor. Di sisi lain, pemerintah Malaysia diketahui menurunkan harga referensi CPO untuk periode Juni, namun tetap mempertahankan kebijakan bea ekspor pada level 10%.