Harga emas yang ditawarkan oleh Pegadaian pada awal bulan, tepatnya Senin, 1 Juni 2026, terpantau stabil tanpa mengalami perubahan. Berdasarkan data terbaru, harga logam mulia dari berbagai brand seperti Antam, UBS, hingga Galeri24 masih bertahan di level yang sama dengan hari sebelumnya.
Stabilitas harga ini terlihat pada laman resmi Sahabat Pegadaian yang diperbarui secara berkala sesuai kondisi pasar. Hingga saat ini, emas UBS dibanderol Rp2.850.000 per gram, sementara Antam berada di angka Rp2.911.000 per gram dan Galeri24 di posisi Rp2.794.000 per gram.
Pegadaian menyediakan berbagai pilihan berat bagi masyarakat yang ingin berinvestasi atau menabung logam mulia. Untuk produk Galeri24, tersedia ukuran mulai dari 0,5 gram hingga berat maksimal 1.000 gram atau 1 kilogram.
Sementara itu, emas produksi UBS ditawarkan dalam rentang berat 0,5 gram sampai dengan 500 gram. Khusus untuk emas Antam yang dipasarkan melalui Sahabat Pegadaian, rincian harganya ditampilkan mulai dari ukuran 0,5 gram hingga 100 gram saja.
Penting bagi calon pembeli untuk mengetahui bahwa harga emas batangan di gerai resmi Logam Mulia biasanya diperbarui setiap hari kerja setelah pukul 08.30 WIB. Berikut adalah rincian lengkap harga jual emas di Pegadaian untuk hari ini, Senin (1/6/2026).
Rincian harga emas batangan di Pegadaian berdasarkan merek dan ukuran:| Ukuran (Gram) | Harga Galeri24 (Rp) | Harga Antam (Rp) | Harga UBS (Rp) |
|---|---|---|---|
| 0,5 gram | 1.465.000 | 1.508.000 | 1.541.000 |
| 1 gram | 2.794.000 | 2.911.000 | 2.850.000 |
| 2 gram | 5.520.000 | 5.760.000 | 5.656.000 |
| 3 gram | - | 8.614.000 | - |
| 5 gram | 13.698.000 | 14.321.000 | 13.977.000 |
| 10 gram | 27.323.000 | 28.585.000 | 27.809.000 |
| 25 gram | 67.939.000 | 71.331.000 | 69.385.000 |
| 50 gram | 135.769.000 | 142.579.000 | 138.483.000 |
| 100 gram | 271.404.000 | 285.077.000 | 276.858.000 |
| 250 gram | 676.843.000 | - | 691.940.000 |
| 500 gram | 1.353.685.000 | - | 1.382.255.000 |
| 1.000 gram | 2.707.370.000 | - | - |
Data harga di atas dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika pasar emas global dan nilai tukar mata uang. Masyarakat disarankan untuk melakukan pengecekan berkala melalui aplikasi atau situs resmi sebelum melakukan transaksi.
Proyeksi Harga Emas Global dalam Sepekan ke Depan
Berdasarkan survei mingguan yang dilakukan oleh Kitco News, terdapat optimisme yang cukup kuat dari para analis mengenai pergerakan harga emas dalam jangka pendek. Meski demikian, sentimen di kalangan pelaku pasar justru cenderung lebih waspada atau pesimistis.
Kondisi ekonomi di Amerika Serikat (AS) diprediksi akan menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan harga emas dunia sepanjang pekan ini. Hingga Senin (1/6/2026), banyak investor yang masih menanti rilis data makroekonomi terbaru dari Negeri Paman Sam tersebut.
Hasil survei terhadap 12 analis menunjukkan bahwa sembilan orang atau sekitar 75% meyakini harga emas akan merangkak naik pekan ini. Di sisi lain, 17% analis memprediksi adanya koreksi harga, sementara 8% sisanya memperkirakan harga akan tetap stabil atau konsolidasi.
Pandangan berbeda datang dari pelaku pasar dalam jajak pendapat daring yang melibatkan 39 responden. Sebanyak 17 orang (44%) memprediksi kenaikan, 10 orang (26%) memperkirakan penurunan, dan 12 orang (31%) memproyeksikan harga akan bergerak mendatar.
Pengaruh Isu Geopolitik dan Kebijakan Internasional
Marc Chandler, selaku Direktur Pelaksana di Bannockburn Global Forex, memberikan pandangannya mengenai situasi geopolitik global. Menurutnya, kabar perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sinyal positif bagi komoditas emas.
Stabilitas politik di kawasan Timur Tengah dianggap mampu mengurangi kebutuhan likuiditas darurat dari negara-negara eksportir maupun importir minyak. Secara teknikal, Chandler menilai jika harga emas mampu bertahan di atas level US$ 4.585, maka sentimen positif akan semakin menguat.
Senada dengan Chandler, Presiden dan COO Asset Strategis Rich Checkan juga memprediksi adanya kenaikan harga. Ia berpendapat bahwa rumor mengenai kesepakatan damai antara AS dan Iran, jika terbukti benar, akan sangat mendongkrak minat terhadap emas.
Checkan menambahkan bahwa pola yang terjadi sejak Februari menunjukkan bahwa konflik sering kali memicu kenaikan harga minyak, inflasi, dan suku bunga. Oleh karena itu, adanya prospek perdamaian diharapkan mampu memberikan keseimbangan baru bagi pasar komoditas dunia.
Emas Berada di Posisi Kuat Namun Sensitif
Naeem Aslam, Kepala Investasi di Zaye Capital Markets, menilai posisi emas saat ini sangat tangguh namun juga cukup sensitif. Pasar tengah berusaha menyeimbangkan dua sinyal yang saling bertolak belakang, yakni penurunan tensi geopolitik dan tekanan inflasi yang masih tinggi.
Beberapa data dari Gedung Putih menunjukkan pertumbuhan PDB AS yang cukup solid di angka 2,6% selama satu tahun terakhir. Selain itu, proyeksi pertumbuhan kuartal berjalan dari Federal Reserve Atlanta mencapai 3,8%, yang menandakan ekonomi masih cukup kuat.
Penurunan harga minyak sekitar 10% selama bulan Mei juga menjadi faktor penekan bagi emas sebagai aset safe-haven. Harapan bahwa konflik internasional segera mereda membuat permintaan terhadap instrumen perlindungan darurat ini sedikit berkurang.
David Morrison dari Trade Nation mencatat bahwa emas sempat mengalami volatilitas yang signifikan pada pekan sebelumnya. Harga logam mulia ini sempat menembus level dukungan di angka US$ 4.400 dan mencapai titik terendah dalam empat minggu terakhir.
Meski sempat jatuh ke bawah level US$ 4.370, emas berhasil melakukan pemulihan berkat pelemahan nilai tukar dolar AS. Hal tersebut memicu lonjakan harga kembali ke atas level US$ 4.400 dalam waktu yang relatif singkat.
Fokus Investor pada Data Ekonomi Amerika Serikat
Memasuki minggu yang baru, fokus utama para investor emas dan perak tertuju pada kondisi kesehatan ekonomi serta pasar tenaga kerja di Amerika Serikat. Rangkaian jadwal rilis data ekonomi pekan ini dianggap sangat krusial dalam menentukan arah kebijakan The Fed ke depan.
Ketidakpastian mengenai arah suku bunga dan pertumbuhan ekonomi global masih menjadi pendukung utama bagi harga logam mulia. Emas terus mendapatkan keuntungan dari permintaan bank sentral, sementara perak bergerak mengikuti campuran sentimen moneter dan aktivitas industri.
Laporan yang sangat dinantikan adalah data PMI Manufaktur ISM yang akan dirilis pada awal pekan ini sebagai indikator aktivitas pabrik. Sektor manufaktur sendiri telah menghadapi tantangan berat selama dua tahun terakhir akibat tingginya suku bunga pinjaman global.
Para analis akan mencermati apakah aktivitas ekonomi mulai stabil atau justru menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang lebih dalam. Jika pertumbuhan ekonomi terbukti melambat secara signifikan, hal tersebut bisa mendorong Federal Reserve untuk mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar.