Nilai tukar emas global mengalami penurunan tajam sebesar 2% hingga menyentuh titik terendah dalam sepekan pada sesi perdagangan Jumat (15/5/2026). Penurunan signifikan ini dipicu oleh kombinasi penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS secara global.
Sebagaimana dilansir dari Investor Daily, harga emas tercatat anjlok 2,41% ke posisi US$ 4.540,14 per ons troi pada penutupan perdagangan. Angka tersebut menjadi level terendah sejak awal Mei, dengan akumulasi pelemahan harga mencapai sekitar 3% dalam rentang waktu satu pekan terakhir.
Kondisi serupa terjadi pada pasar berjangka di mana kontrak emas AS untuk pengiriman Juni ditutup merosot 3,02% pada level US$ 4.543,6 per ons troi. Tekanan terhadap logam mulia ini semakin berat menyusul lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati rekor tertinggi tahunan.
Analis Marex, Edward Meir, menjelaskan bahwa aksi jual masif melanda hampir seluruh sektor logam mulia akibat dinamika pasar keuangan global.
"Dolar AS sangat kuat hari ini. Selain itu, bukan hanya imbal hasil obligasi AS yang naik, tetapi juga secara global," ujar Meir.
Selain faktor moneter, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memberikan sentimen negatif terhadap stabilitas pasar. Konflik Iran yang terus memanas memicu kekhawatiran terkait lonjakan inflasi jangka panjang yang berpotensi memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi.
Tekanan harga tidak hanya dialami oleh emas, melainkan juga merembet ke komoditas logam lainnya. Harga perak spot tercatat rontok hingga 8,99% ke posisi US$ 75,97 per ons, sementara platinum dan palladium masing-masing turun 3,79% dan 2,26%.
Analis StoneX, Rhona OÔÇÖConnell, memberikan pandangannya mengenai koreksi tajam yang terjadi pada pasar perak setelah periode kenaikan sebelumnya.
"harga perak sebelumnya sudah berada dalam kondisi overbought sehingga membutuhkan koreksi," ujar OÔÇÖConnell.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, para pelaku pasar kini mulai bersikap konservatif dengan mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga AS. Spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga justru mulai muncul seiring dengan harga minyak mentah yang telah melonjak 40% sejak akhir Februari lalu.