Harga Emas Dunia Melonjak 29 Mei 2026 Imbas Gencatan Senjata AS-Iran

Harga Emas Dunia Melonjak 29 Mei 2026 Imbas Gencatan Senjata AS-Iran
Foto: Ilustrasi Harga Emas Dunia Melonjak 29 Mei 2026 Imbas Gencatan Senjata AS-Iran.

Harga emas dunia kembali bergerak menguat setelah sebelumnya sempat merosot hingga menyentuh titik terendah dalam periode dua bulan terakhir. Dikutip dari Investor Daily, pergerakan positif ini terjadi akibat pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) serta koreksi harga minyak mentah global.

Sentimen pasar tersebut dipicu oleh kabar mengenai tercapainya kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara pihak AS dan Iran. Berdasarkan data perdagangan global, nilai emas spot mengalami kenaikan sebesar 0,88% ke angka US$ 4.495,83 per ons troi.

Padahal, komoditas ini baru saja menyentuh level paling rendah sejak akhir Maret lalu. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS ditutup menguat sebesar 1,02% dan menetap di posisi US$ 4.527 per ons troi.

Dilansir dari Reuters, seorang sumber tepercaya mengonfirmasi bahwa AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Kendati demikian, implementasi kesepakatan tersebut masih harus menunggu persetujuan resmi dari Presiden AS Donald Trump.

Kondisi geopolitik ini beriringan dengan penurunan indeks dolar AS sebesar 0,2%. Pelemahan mata uang Paman Sam tersebut secara otomatis membuat instrumen emas menjadi lebih terjangkau bagi para pembeli di luar negeri.

Pada saat yang sama, harga minyak Brent langsung terkoreksi sesaat setelah laporan mengenai potensi kesepakatan damai tersebut beredar luas. Sementara itu, data ekonomi terkini melaporkan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS merosot ke angka 3,8% secara tahunan pada April, sesuai dengan prediksi awal pasar.

Secara bulanan, pertumbuhan indeks PCE naik 0,4%, melambat dibandingkan lonjakan pada Maret sebesar 0,7%. Seorang trader logam independen, Tai Wong, memberikan pandangannya terkait situasi pasar terkini.

"Harga emas sempat terancam turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari pagi ini, yang dianggap banyak trader sebagai level penting untuk menjaga tren naik," ujar Wong.

Menurut Wong, perpaduan antara perlambatan data inflasi dan potensi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi motor penggerak sentimen positif bagi emas. Di sisi lain, kepala strategi komoditas global TD Securities, Bart Melek, turut memproyeksikan arah kebijakan moneter.

"Data PCE membuka peluang The Fed menahan suku bunga dan tidak melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat," kata Melek.

Walaupun begitu, risalah pertemuan The Fed akhir April lalu mengindikasikan bahwa sebagian pejabat bank sentral masih melihat adanya potensi kenaikan suku bunga lanjutan. Tekanan terhadap pergerakan emas sejatinya telah berlangsung sejak eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran memanas pada akhir Februari.

Kekhawatiran inflasi memperparah kondisi tersebut, sebab emas biasanya kalah bersaing dengan aset yang menawarkan imbal hasil langsung saat suku bunga tinggi. Namun, permintaan fisik tetap kuat, terlihat dari data impor bersih emas China lewat Hong Kong yang melonjak hingga 81,2% pada April.

Untuk sektor logam mulia lainnya, perak spot mencatatkan penguatan sebesar 1,36% ke posisi US$ 75,65 per ons. Sebaliknya, platinum turun 0,27% ke level US$ 1.924,06 per ons, diikuti paladium yang melemah 1,21% ke angka US$ 1.375,35 per ons.

Artikel terkait

Rekomendasi