Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) dilaporkan mengalami penurunan tajam pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Pelemahan ini membawa harga minyak sawit ke titik terendah dalam dua bulan terakhir.
Dilansir dari Investor Daily, lesunya permintaan dari dua konsumen terbesar dunia, yakni India dan China, menjadi pemicu utama ambruknya harga komoditas unggulan tersebut.
Berdasarkan data penutupan BMD, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Mei 2026 merosot sebesar 61 Ringgit Malaysia, sehingga berakhir di posisi 4.390 Ringgit Malaysia per ton.
Penurunan juga terjadi pada kontrak Juni 2026 yang melemah 41 Ringgit Malaysia menjadi 4.409 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak Juli 2026 terkoreksi 43 Ringgit Malaysia ke level 4.438 Ringgit Malaysia per ton.
Tren negatif ini berlanjut pada kontrak Agustus 2026 yang turun 47 Ringgit Malaysia menjadi 4.457 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak September dan Oktober 2026 masing-masing juga melemah ke angka 4.472 Ringgit Malaysia dan 4.489 Ringgit Malaysia per ton.
Direktur broker Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengungkapkan bahwa pasar saat ini sedang dicengkeram kekhawatiran terkait penurunan daya serap pasar dari India dan China.
"Pembeli dari India kini beralih ke minyak kedelai dari Argentina, sementara China mulai mengurangi pembelian jangka pendek dan lebih tertarik melakukan pembelian untuk pengiriman Desember," ujar Paramalingam.
Menurutnya, fenomena ini menyebabkan kekosongan permintaan yang signifikan pada pasar fisik jangka pendek. Data dari Solvent ExtractorsÔÇÖ Association of India mengonfirmasi bahwa impor minyak sawit India pada April menyusut 26%, yang merupakan angka terendah dalam empat bulan.
Persaingan Minyak Nabati dan Faktor Eksternal
Kenaikan harga sebelumnya sempat mempersempit selisih nilai antara minyak sawit dengan minyak nabati pesaing lainnya. Hal ini membuat industri mulai melirik alternatif lain yang lebih kompetitif secara harga.
Di pasar Dalian, kontrak minyak sawit mengalami pelemahan sebesar 1,28%, sedangkan minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) hanya menunjukkan kenaikan tipis 0,11%.
Koreksi harga minyak mentah dunia setelah reli panjang juga turut memberikan tekanan tambahan. Turunnya harga minyak bumi membuat penggunaan CPO sebagai bahan baku biodiesel menjadi kurang ekonomis bagi produsen.
Faktor mata uang juga berperan, di mana ringgit Malaysia yang menguat 0,1% terhadap dolar AS menjadikan harga CPO relatif lebih mahal bagi para importir luar negeri yang menggunakan mata uang asing.
| Bulan Kontrak | Penurunan (RM) | Harga Akhir (RM/Ton) |
|---|---|---|
| 61 | 4.390 | 41 |
| 4.409 | 43 | 4.438 |
| 47 | 4.457 | 43 |
| 4.472 | 36 | 4.489 |
Para pelaku pasar kini tetap waspada memantau perkembangan geopolitik global, termasuk potensi gencatan senjata di Timur Tengah serta pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.