Tren positif mata uang kripto terus berlanjut setelah Bitcoin (BTC) berhasil mencatatkan lonjakan harga hingga melewati level US$ 73.000. Pergerakan ini memicu para pelaku pasar untuk membidik target baru di kisaran US$ 80.000.
Seperti dilansir dari Investortrust, pasangan BTC/USD sukses melewati batas atas pola pennant pada level US$ 70.000. Aset digital ini sempat menyentuh angka US$ 73.300 pada Jumat (10/4/2026) malam setelah mengalami kenaikan sekitar 7%.
Pertumbuhan harga ini terjadi bersamaan dengan peningkatan volume perdagangan di pasar finansial. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya keyakinan yang kuat dari para pelaku pasar terhadap kelanjutan reli instrumen digital ini.
Secara teknikal, pergerakan harga komoditas digital ini berhasil melampaui beberapa garis pertahanan utama. Posisi harga kini berada di atas rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 200 minggu di US$ 68.350, EMA 20 hari di US$ 69.520, serta EMA 50 hari di US$ 70.580.
Keberhasilan melewati titik-titik tersebut membuka peluang terjadinya pembalikan arah menuju pola segitiga simetris yang lebih kuat. Jika mengacu pada tinggi maksimum pola teknikal tersebut, ruang kenaikan terbuka menuju US$ 87.000.
Indikator RSI menunjukkan adanya divergensi positif yang mencerminkan penguatan momentum dalam dua bulan terakhir. Di sisi lain, data TradingView memperlihatkan aset ini sempat tertahan di rentang US$ 60.000 hingga US$ 70.000 selama enam pekan.
Analisis risiko dari Glassnode menunjukkan adanya area hambatan besar yang berada di antara rerata pasar riil sebesar US$ 78.000. Titik krusial lain berada pada level basis biaya pemegang jangka pendek di kisaran US$ 80.000.
"Ini adalah ambang batas yang sangat berarti," kata Glassnode dalam buletin Week Onchain terbaru dilansir dari Cointelegraph, Sabtu (11/4/2026).
Sementara itu, sentimen pasar di platform prediksi Polymarket ikut bergeser ke arah yang lebih optimis. Pelaku pasar menempatkan peluang sebesar 26% untuk Bitcoin menyentuh US$ 80.000, sedangkan probabilitas mencapai US$ 75.000 berada di angka 76%.
Dari sektor makroekonomi, Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret naik 0,9% secara bulanan. Inflasi tahunan tercatat menyentuh angka 3,3% akibat lonjakan sektor energi.
Tingginya angka inflasi yang berada di atas target 2% membuat bank sentral AS diperkirakan mempertahankan kebijakan moneter ketat. Alat FedWatch dari CME Group menunjukkan peluang sebesar 98,4% bahwa suku bunga tidak akan turun dalam waktu dekat.