Harga komoditas beras di Kota Malang merangkak naik hingga memicu kelesuan daya beli masyarakat dan penumpukan stok di tingkat pedagang, Rabu (20/5/2026). Fenomena anomali pasar ini terjadi di tengah laporan melimpahnya stok pangan serta kelancaran pasokan dari pihak distributor, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Kondisi sepinya pembeli di Pasar Bunulrejo, Kota Malang sudah dikeluhkan oleh para pedagang sejak awal Mei 2026. Salah satu pedagang beras, Supriyono, mengungkapkan bahwa penurunan drastis pada omzet penjualannya mencapai angka 80 persen akibat lesunya pasar akhir-akhir ini.
"Stok beras melimpah, pasokan lancar. Tapi daya beli melambat. Sampai pukul 10.00 WIB tadi baru terjual 20 kg, padahal biasanya bisa mencapai 100 kg. Kondisi ini terjadi sejak awal Mei," ujar Supriyono, pedagang beras.
Kenaikan harga pangan ini menyasar berbagai jenis merek dagang dari kelas medium hingga premium. Komoditas beras SPHP dari Bulog yang dibanderol dengan harga paling murah pun ikut sepi peminat, sehingga pedagang memilih menunda pasokan baru karena stok sebelumnya belum habis.
"Kami menunda kulakan lagi karena stok yang ada saja belum habis. Biasanya dalam sepekan bisa laku 2,5 ton, sekarang baru terjual 1 ton," imbuh Supriyono, pedagang beras.
Detail pergeseran nilai jual untuk sejumlah merek beras kemasan 5 kilogram yang beredar di Pasar Bunulrejo tercatat dalam data harga berikut.
| Merek Beras | Harga Lama | Harga Baru |
|---|---|---|
| Lombok (Premium) | Mata Uang Rupiah 76.000 | Mata Uang Rupiah 76.500 |
| Topas | Mata Uang Rupiah 70.000 | Mata Uang Rupiah 70.250 |
| Anak Tani | Mata Uang Rupiah 67.500 | Mata Uang Rupiah 68.000 |
| Raja (Premium) | Mata Uang Rupiah 73.500 | Mata Uang Rupiah 74.000 |
Kenaikan nominal serupa juga melanda merek premium lain seperti Lahap dan Mentari yang menyentuh angka Mata Uang Rupiah 78.000 per 5 kg. Di sisi lain, Perum Bulog Cabang Malang justru mencatatkan kinerja positif dalam penyerapan gabah dari petani lokal hingga pertengahan Mei 2026.
"Realisasi ini sudah mencapai hampir 92 persen dari target tahunan sebesar 76 ribu ton. Angka ini meningkat 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," jelas M. Nurjuliansyah Rachman, Kepala Bulog Cabang Malang.
Pihak Bulog menegaskan kesiapan untuk menyerap hasil panen yang tidak terserap pasar demi menjaga stabilitas harga di tingkat produsen Jawa Timur. Pengadaan tersebut memberlakukan syarat kualitas ketat melalui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) senilai Mata Uang Rupiah 6.500 per kilogram.