Kenaikan signifikan harga bahan bakar minyak akibat perang di Timur Tengah telah memaksa warga Amerika Serikat mengurangi pembelian kebutuhan rumah tangga mereka pada awal Mei 2026.
Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Finance, harga rata-rata bensin di negara tersebut melonjak hingga menyentuh angka US$ 4,30 atau berkisar Rp 74.420 per galon, yang setara dengan Rp 19.687 per liter.
Kondisi yang tercatat sebagai level tertinggi dalam empat tahun terakhir ini berdampak langsung pada penurunan omzet penjualan sejumlah barang harian karena masyarakat memprioritaskan anggaran untuk membeli BBM.
Departemen Perdagangan Amerika Serikat melaporkan bahwa pertumbuhan penjualan ritel pada April 2026 hanya mencapai 0,5 persen, mengalami perlambatan besar dari pencapaian bulan Maret 2026 yang sempat berada di angka 1,6 persen.
Kemerosotan ini dipicu oleh penurunan penjualan di toko furnitur sebesar minus 2 persen, dealer mobil minus 0,5 persen, toko serba ada untuk keperluan harian minus 3,2 persen, serta toko pakaian yang minus 1,5 persen.
Situasi serupa juga terlihat pada sektor hulu di mana penjualan di SPBU hanya mampu tumbuh 2,8 persen pada April, berbanding terbalik dari lonjakan tajam sebesar 13,7 persen yang terjadi pada bulan sebelumnya.
Tekanan ekonomi ini diperkuat oleh hasil survei konsumen Universitas Michigan yang menunjukkan peningkatan frustrasi masyarakat terhadap lonjakan harga bensin, serta prediksi bahwa konsumsi yang melemah akan menjatuhkan perekonomian negara.