Dikutip dari Investor Daily, harga batu bara mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (27/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh melemahnya harga gas alam serta meredanya kekhawatiran terkait gangguan pasokan energi global.
Data perdagangan menunjukkan harga batu bara Newcastle kontrak Mei 2026 turun US$ 0,85 menjadi US$ 131,75 per ton. Kontrak Juni 2026 anjlok US$ 1,2 ke level US$ 138,2 per ton, sedangkan Juli 2026 jatuh US$ 1,05 menjadi US$ 141,75 per ton.
Kondisi berbeda terjadi pada harga batu bara Rotterdam kontrak Mei 2026 yang naik US$ 0,4 menjadi US$ 112,9 per ton. Kontrak Juni 2026 menguat US$ 0,25 menjadi US$ 129,55 per ton, sedangkan Juli 2026 terkerek US$ 0,3 ke level US$ 126,5 per ton.
Berdasarkan data Trading Economics, harga batu bara bergerak dalam rentang sempit setelah turun dari level tertinggi 18 bulan di US$ 146 pada akhir Maret. Situasi ini berjalan seiring dengan pelemahan harga gas alam saat pasar menilai kembali permintaan sumber energi alternatif di negara-negara ekonomi utama.
Harga gas melemah setelah muncul laporan mengenai sejumlah kapal tanker gas alam cair (LNG) milik Uni Emirat Arab (UEA) yang berhasil melintasi Teluk Persia. Keberhasilan tersebut mengurangi kekhawatiran pasar akan kekurangan pasokan sejak awal konflik dimulai.
Peningkatan pasokan LNG tahun ini memicu reaksi pada harga batu bara termal karena perusahaan utilitas kembali mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menghasilkan energi. Meskipun sudah turun dari level puncak, meningkatnya permintaan batu bara sejak konflik pecah membuat harga kontrak berjangka masih naik 22% sepanjang tahun berjalan.
Peningkatan Impor di Jepang dan Korea Selatan
Peralihan penggunaan energi tersebut terutama terjadi di Jepang dan Korea Selatan yang merupakan konsumen utama batu bara termal berkualitas tinggi asal Australia.
Impor batu bara termal pada April tercatat melonjak 40% menjadi 5,7 juta ton di Korea Selatan. Sementara itu, impor batu bara termal di Jepang juga mengalami kenaikan sebesar 2,5% menjadi 7,9 juta ton.