Mayoritas harga batu bara mengalami penurunan signifikan pada sesi perdagangan Rabu (20/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan energi global serta merosotnya harga gas alam cair (LNG).
Selain itu, perhatian pasar kini tertuju pada rencana Pemerintah Indonesia yang berniat memperketat kendali atas ekspor komoditas strategis. Perubahan kebijakan dari salah satu eksportir terbesar dunia ini diproyeksikan bakal memengaruhi sentimen pasar energi, khususnya di wilayah Asia.
Berdasarkan data perdagangan yang dikutip dari Investor Daily, pergerakan harga batu bara Newcastle kontrak Mei 2026 sebenarnya masih naik tipis US$ 0,05 menjadi US$ 132,45 per ton. Namun, kontrak Juni 2026 anjlok sebesar US$ 1,95 menuju level US$ 137,45 per ton, disusul kontrak Juli 2026 yang ambles US$ 1,75 ke posisi US$ 140,15 per ton.
Kondisi serupa terjadi pada harga batu bara Rotterdam. Kontrak Mei 2026 menguat tipis US$ 0,05 menjadi US$ 112,5 per ton. Sebaliknya, kontrak Juni 2026 terpangkas US$ 1,15 menjadi US$ 121,95 per ton, dan kontrak Juli 2026 merosot US$ 2 ke level US$ 122,9 per ton.
Pelemahan harga komoditas ini terkonfirmasi setelah risiko krisis energi global dinilai merosot. Berdasarkan data TradingView, penurunan risiko tersebut terjadi seiring kembali lancarnya arus distribusi LNG yang melintasi jalur Teluk Persia.
Sejumlah kapal tanker LNG asal Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan telah kembali beroperasi melewati jalur laut tersebut. Perkembangan ini meredam kecemasan pasar atas potensi macetnya pasokan energi akibat ketegangan konflik di Timur Tengah.
Dampak langsung dari penurunan harga gas alam ini membuat urgensi penggunaan batu bara sebagai bahan bakar alternatif pembangkit listrik menjadi berkurang. Walau sedang tertekan, harga batu bara saat ini sejatinya masih bertahan di level yang cukup tinggi.
Komoditas ini tercatat masih mengantongi kenaikan sekitar 22% sejak awal tahun. Lonjakan tersebut sebelumnya ditopang oleh tingginya permintaan energi internasional selama konflik Timur Tengah memanas.
Sorotan Terhadap Kebijakan Ekspor Indonesia
Faktor lain yang terus dipantau pasar adalah rencana strategis pemerintah Indonesia yang ingin memusatkan seluruh aktivitas ekspor komoditas penting melalui entitas milik negara. Langkah baru ini dipastikan ikut mencakup tata kelola ekspor batu bara.
Kebijakan penataan ekspor tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam memengaruhi arus perdagangan komoditas serta mekanisme penentuan harga energi global untuk jangka menengah. Indonesia memegang peran krusial karena statusnya sebagai salah satu eksportir batu bara termal terbesar di dunia.