Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Alat Kesehatan Pasar Pramuka

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Alat Kesehatan Pasar Pramuka
Foto: Ilustrasi Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Alat Kesehatan Pasar Pramuka.

Sejumlah pedagang di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, melaporkan kenaikan harga alat kesehatan yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah pada Kamis (14/5/2026). Gejolak geopolitik tersebut berdampak langsung pada biaya produksi bahan baku dan rantai pasok barang impor.

Kenaikan harga ini dilaporkan telah berlangsung selama satu bulan terakhir di pusat perbelanjaan alat kesehatan tersebut. Kondisi ini merata pada hampir seluruh produk kesehatan yang bergantung pada izin Alat Kesehatan Luar (AKL) atau barang impor sebagaimana dilansir dari Megapolitan.

Pedagang bernama Wati menjelaskan bahwa ketegangan di Iran serta kenaikan harga bahan bakar minyak menjadi faktor utama melesatnya harga komoditas berbahan plastik.

"Kalau yang saya tahu sejak kejadian di Iran kemarin dan kenaikan BBM karena perang itu harga bahan plastik yang naik. Jadi, lonjakannya agak tinggi," ucap salah satu pedagang di Pasar Pramuka bernama Wati (45) ketika ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis (14/5/2026).

Senada dengan Wati, pedagang lain bernama Yuli menyoroti hambatan pada proses impor bahan baku utama dari luar negeri. Kesulitan pasokan ini disebutnya terjadi akibat dampak perang yang masih berlangsung.

"Mungkin faktor bahan baku karetnya yang sedang susah. Karena ada perang juga di sana, jadi impornya sulit," ujar dia di lokasi.

Ketergantungan terhadap barang impor terlihat pada produk kursi roda yang didatangkan dari Taiwan. Harga beli pedagang yang semula Rp 850.000 kini membengkak menjadi sekitar Rp 900.000, sehingga harga jual ke masyarakat menembus angka Rp 1 juta.

Bara, yang juga merupakan seorang pedagang, memberikan rincian mengenai penyesuaian harga harian yang dialami oleh para pelaku usaha di pasar tersebut.

"Rata-rata produk alat kesehatan menggunakan izin AKL (Alat Kesehatan Luar) dan mayoritas memang barang impor, jadi hampir semuanya naik. Ada penyesuaian harga hampir setiap hari dengan kenaikan ribuan rupiah," kata Bara di lokasi.

Kenaikan paling signifikan ditemukan pada alat kesehatan sekali pakai berbahan plastik, seperti apron plastik. Sebelumnya, produk ini dijual di kisaran Rp 85.000 hingga Rp 115.000 per boks.

Saat ini, modal yang harus dikeluarkan pedagang untuk satu boks apron mencapai Rp 115.000. Kondisi tersebut memaksa pedagang menetapkan harga jual di tingkat konsumen sekitar Rp 125.000 per boks.

Artikel terkait

Rekomendasi