Guru Besar Politik Timur Tengah UIN Jakarta, Ali Munhanif, memaparkan berbagai kendala yang menyulitkan tercapainya kesepakatan dalam perundingan kedua antara Iran dan Amerika Serikat (AS) pada Kamis (23/4/2026). Kegagalan ini menyusul kebuntuan pertemuan sebelumnya yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Dilansir dari Kompas, kegagalan mencapai titik temu pada 11-12 April 2026 tersebut dinilai sudah dapat diantisipasi sejak awal. Ali menyebutkan bahwa tawaran gencatan senjata sementara tidak cukup kuat untuk menjembatani perbedaan kepentingan kedua belah pihak.
"Jadi sebagaimana kita bisa prediksi bahwa perundingan yang awal itu, yang jeda atau katanya gencatan senjata selama dua minggu, itu sebenarnya sudah bisa diprediksi akan gagal," kata Ali dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Kamis (23/4/2026).
Hambatan utama muncul dari sepuluh poin tuntutan yang diajukan pihak Teheran kepada Washington. Pemerintah AS menganggap poin-poin negosiasi tersebut sangat merugikan posisi mereka, sementara di sisi lain, Presiden Donald Trump merasa militernya telah memenangkan pertempuran.
"10 poin (tuntutan Iran) tadi itu sebenarnya ingin menunjukkan bahwa peperangan dimenangkan oleh Iran. Sementara Amerika juga, Trump terutama, ingin mendeklarasikan di dalam negerinya bahwa peperangan ini dimenangkan oleh Amerika," jelas Ali.
Ali menambahkan bahwa situasi ini mempersulit kemungkinan terjadinya putaran kedua karena kedua negara berusaha menjaga gengsi politik. Baik Iran maupun AS tidak ingin terlihat lemah atau merasa dikhianati dalam proses diplomasi tersebut.
Kritik juga diarahkan pada cara pandang Donald Trump dalam mengelola konflik ini. Ali berpendapat terdapat kekeliruan dalam pengumpulan data intelijen sebelum keputusan untuk meluncurkan serangan terhadap Iran diambil.
"Itu berarti bahwa sejauh yang kita lihat, data-data di lapangan, Iran tetap ingin melanjutkan ini dalam apa pun bentuknya, entah diplomasi, entah peperangan, dengan klaim bahwa peperangan dimenangkan oleh Iran. Sebaliknya, Trump tidak akan melangkah ke situ," katanya.
Menurut analisis Ali, Iran saat ini justru memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk tetap berada dalam jalur konflik dengan dukungan penuh dari masyarakat domestiknya. Kondisi tersebut kontras dengan ekspektasi Trump yang menduga serangan militer akan melemahkan posisi tawar Iran.
Ketidakpastian mengenai gencatan senjata semakin diperparah dengan pergerakan militer AS di kawasan. Kehadiran tiga kapal induk Amerika Serikat di Timur Tengah menimbulkan kecurigaan akan adanya persiapan serangan mendadak terhadap wilayah Iran.