Digitalisasi sekolah sering kali menimbulkan kecanggungan bagi sebagian pendidik yang merasa tertinggal atau sekadar menjadi pengguna pasif dari sistem buatan pihak luar.
Kondisi tersebut dialami oleh seorang guru IPS yang tidak memiliki latar belakang teknologi informasi, seperti dilansir dari Katanetizen.
Keterbatasan tersebut awalnya membuat pihak sekolah bergantung pada aplikasi bel otomatis pihak ketiga, baik yang berbayar maupun gratis.
Ketergantungan ini menimbulkan kendala saat sistem mengalami gangguan karena proses perbaikan membutuhkan waktu lama dan biaya tambahan.
Di sisi lain, petugas piket harus selalu bersiap membunyikan bel manual di tengah jadwal sekolah yang padat agar waktu pelajaran tidak terlewat.
Situasi tersebut mendorong guru IPS ini untuk mulai mempelajari pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) demi mencari solusi mandiri.
Eksperimen awal dilakukan dengan merakit sistem bel otomatis sederhana memanfaatkan komputer sekolah yang terhubung ke perangkat audio.
Proses pembuatan sempat menghadapi kendala teknis seperti kode pemrograman yang eror dan kegagalan jadwal bunyi bel.
Sistem ini akhirnya berhasil berfungsi dengan rekaman suara mandiri yang disesuaikan langsung dengan jadwal kegiatan sekolah.
Hasil Uji Coba dan Dampak Efisiensi
Uji coba sistem bel otomatis gratis tersebut berjalan selama tiga minggu untuk memastikan konsistensi performanya.
Inovasi ini mendapat respons positif dari lingkungan sekolah karena membantu tugas guru piket dan menjaga ketepatan waktu belajar.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan berfungsi sebagai alat bantu yang tetap dikendalikan penuh oleh manusia.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa transformasi digital di sekolah dapat dimulai melalui keberanian mencoba hal baru di tengah keterbatasan fasilitas.