Abdul Azis (45), seorang guru honorer agama Islam dan kesenian, mengayuh sepeda lipat tuanya dari Tegal Alur, Jakarta Barat, menuju Penjaringan, Jakarta Utara, pada Rabu (22/4/2026). Perjalanan subuh tersebut dilakukan untuk mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam 1 tempatnya mengabdi.
Dilansir dari Megapolitan, Azis memulai perjalanannya dari kediamannya di Gang Lingga IX, Kelurahan Tegal Alur, sekitar pukul 05.15 WIB. Dengan menggunakan seragam pramuka, ia membonceng putri sulungnya, Azalea (11), membelah jalanan ibu kota menggunakan satu-satunya kendaraan yang ia miliki.
Tantangan berat dihadapi Azis saat memasuki Jalan Kapuk Kamal Raya yang didominasi oleh truk kontainer besar. Kondisi fisik sepeda yang sudah berkarat mengharuskannya ekstra waspada saat melintas di samping kendaraan berat yang ukurannya jauh lebih besar dari sepedanya.
Titik tersulit dalam rute hariannya adalah tanjakan flyover di atas Tol Bandara Soekarno-Hatta yang menghubungkan Kapuk Kamal Raya dengan Kamal Muara. Karena kecuraman jalan, Azis terpaksa turun dan menuntun sepedanya sambil tetap membonceng anaknya hingga mencapai puncak jembatan.
Keselamatan menjadi kekhawatiran utama bagi pria yang menerima honor sebesar Rp 2 juta per bulan ini. Meski berisiko, ia tetap memilih bersepeda karena akses transportasi umum gratis seperti JakLingko dianggap tidak efisien untuk rute rumah menuju sekolahnya.
"Kadang anak saya juga bilang, 'Abi hati-hati awas ada mobil besar (truk), minggir dikit.' Bahkan kadang kami turun dari sepeda untuk menghindari mobil besar, jadi kami ambil jalan trotoar," kata Azis.
Pria berusia 45 tahun ini menjelaskan bahwa menggunakan JakLingko memerlukan waktu tempuh sekitar satu jam karena rute yang memutar. Ia harus berpindah rute dari Menceng ke arah Jalan Benda sebelum menuju Bundaran Kamal dan masih harus berjalan kaki selama 15 menit.
"Bayangkan kalau dari tempat saya tinggal saja kita harus ke Menceng dulu, kemudian dari Menceng kita ke arah Jalan Benda. Dari Jalan Benda kita kemudian baru naik yang ke arah Dadap-Kamal. Itu pun kita tidak sampai di sekolah, hanya sampai di Bundaran Kamal, lalu jalan 15 menit, total 1 jam lah," jelas Azis.
Meskipun harus menembus kemacetan truk dan keringat membasahi seragamnya setibanya di sekolah, Azis tetap menunjukkan dedikasi tinggi. Baginya, ketepatan waktu sampai di sekolah adalah prioritas utama demi kelancaran proses belajar mengajar para siswanya.
"Yang penting hari ini saya bisa sampai tepat waktu dan anak-anak bisa belajar dengan baik, karena menjadi seorang guru itu sangat-sangat menyenangkan buat saya," ujar Azis.