Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih mengalami undervalued atau berada di bawah nilai fundamentalnya. Penegasan tersebut disampaikan dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) ke-II di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta pada Kamis (7/5/2026).
Kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kokoh berdasarkan sejumlah indikator utama yang dilaporkan oleh pemerintah. Dilansir dari Investortrust, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mencapai angka 5,61 persen secara tahunan.
ÔÇ£Ukuran fundamental rupiah itu apa sih? Pertumbuhan ekonomi Pak Menteri telah menyampaikan 5,61% [secara tahunan] ya Pak Menkeu, salah satu yang tertinggi di G20,ÔÇØ kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI).
Kekuatan fundamental tersebut juga didukung oleh tingkat inflasi yang terjaga rendah di posisi 2,42 persen secara tahunan. Selain itu, neraca perdagangan periode Januari hingga Maret 2026 mencatatkan surplus sebesar US$ 5,5 miliar, dibarengi dengan posisi cadangan devisa Maret 2026 yang kuat senilai US$ 148,2 miar.
ÔÇ£Jadi secara indikator itu, fundamental ekonomi kita itu kuat,ÔÇØ ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI).
Perry menambahkan bahwa pelemahan nilai tukar mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia semata, melainkan menjadi fenomena global. Otoritas moneter terus berupaya mengendalikan volatilitas agar depresiasi rupiah tidak terjadi terlalu dalam.
ÔÇ£Kita jaga tingkat pelemahannya itu tidak terlalu tinggi,ÔÇØ kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI).
Faktor eksternal seperti lonjakan harga minyak dunia, eskalasi tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta kenaikan imbal hasil suku bunga surat utang Amerika Serikat (AS) hingga 4,41 persen menjadi pemicu utama koreksi mata uang global.
ÔÇ£Dolarnya [AS] juga kuat dan investor asing juga lagi outflow dari seluruh negara emerging market. Ini kondisi globalnya,ÔÇØ kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI).
Dari sisi domestik, lonjakan permintaan valuta asing pada periode April-Mei 2026 turut dipengaruhi oleh faktor musiman. Aktivitas penukaran valas meningkat karena pemenuhan kebutuhan ibadah umrah serta persiapan pelaksanaan ibadah haji.
ÔÇ£Juga, April-Mei itu memang korporasi banyak yang repatriasi dividen, membayar utang luar negeri, baik bunga dan pokok. Memang kondisinya begitu,ÔÇØ kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia (BI).
Guna menghadapi tekanan global ini, Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah stabilisasi tersebut dijalankan melalui koordinasi erat bersama pemerintah serta dukungan dari Presiden Prabowo Subianto.