Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan bergerak kembali stabil seusai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (18/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah sorotan terhadap pelemahan mata uang Garuda belakangan ini, seperti dilansir dari Investor Daily. Rapat terbatas bentukan Kepala Negara tersebut berlangsung selama dua jam untuk membahas situasi sektor ekonomi terkini dan tekanan terhadap mata uang domestik.
ÔÇ£Yakin (rupiah) stabil,ÔÇØ kata Perry menjawab pertanyaan wartawan terkait nilai tukar rupiah, dikutip pada Selasa (19/5/2026).
Seusai memberikan pernyataan singkat mengenai stabilitas mata uang tersebut, Perry memilih tidak memberikan respons terhadap pertanyaan awak media mengenai desakan dari Komisi XI DPR. Pihak parlemen sebelumnya menyarankan agar Gubernur BI mengundurkan diri dari jabatannya sebagai imbas dari merosotnya nilai tukar rupiah.
Rapat terbatas di Istana Kepresidenan tersebut turut dihadiri oleh jajaran menteri kabinet, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, serta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sebelum pertemuan di Istana, Perry juga sempat memaparkan proyeksi ekonomi dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR.
Otoritas moneter menilai posisi mata uang domestik saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Kendati demikian, bank sentral tetap mempertahankan proyeksi bahwa nilai tukar sepanjang tahun ini akan bergerak sesuai dengan target yang ditetapkan.
ÔÇ£Rujukannya undervalue karena memang kami masih meyakini 2026 ini rata-rata nilai tukar seluruh tahun adalah Rp 16.500, kisarannya Rp 16.200 sampai Rp 16.800, kami masih meyakini itu,ÔÇØ kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin, (18/5/2026).
Faktor musiman pada periode April hingga Juni diakui menjadi penyebab utama munculnya tekanan eksternal terhadap rupiah saat ini. Kebutuhan penukaran valuta asing meningkat tajam demi mendanai kegiatan ibadah haji serta pembayaran dividen perusahaan ke luar negeri.
Pihak Bank Indonesia memproyeksikan tekanan terhadap kurs akan mulai mereda memasuki paruh kedua tahun ini. Pola pergerakan mata uang diperkirakan segera berbalik arah menuju tren penguatan dalam beberapa bulan ke depan.
ÔÇ£Mulai Juli, Agustus, dan September Rupiah akan menguat. Keseluruhan tahun kami masih yakini rata-rata nilai tukar rupiah masih dalam kisaran yang dalam APBN yang paling tinggi adalah Rp 16.800,ÔÇØ terang Perry.