Wilayah Asia tengah menghadapi cengkeraman gelombang panas ekstrem yang melumpuhkan sekaligus memicu tekanan besar pada pasar batu bara dan gas global. Seperti dilansir dari Media Indonesia, lonjakan kebutuhan listrik untuk pendingin ruangan kini berbenturan dengan krisis energi akut akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Situasi tersebut meningkatkan risiko krisis parah saat bulan-bulan terpanas dalam setahun baru saja dimulai. Di India, suhu udara menembus angka 47 derajat celsius di berbagai negara bagian pada bulan ini, sehingga mendorong permintaan listrik ke rekor tertinggi sebesar 271 gigawatt selama empat hari berturut-turut.
Level permintaan itu sebelumnya diproyeksikan oleh otoritas jaringan listrik sebagai batas maksimal untuk tahun 2026-2027. Padahal, musim panas di negara tersebut masih menyisakan tiga bulan penuh.
Fenomena lonjakan suhu udara yang melonjak tidak hanya melanda kawasan Asia Selatan. Di Seoul, merkuri bertahan sekitar 13 persen di atas rata-rata jangka panjang sejak pertengahan Mei dan memicu peringatan panas ekstrem.
Sementara itu, Shanghai mencatat rata-rata suhu 12 persen di atas normal, sedangkan Tokyo berada di angka 10 persen lebih tinggi. Krisis iklim dilaporkan telah melipatgandakan kemungkinan terjadinya cuaca panas ekstrem seperti ini.
Data menunjukkan bahwa hari-hari gelombang panas di India meningkat 0,44 hari per dekade sejak 1961. Jumlah malam dengan suhu di atas 25 derajat celsius juga terus bertambah, yang mengganggu kesehatan sekaligus memaksa penggunaan AC selama 24 jam penuh.
Di sisi lain, konflik bersenjata antara AS-Israel dan Iran menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi bagi seperlima perdagangan minyak dunia dan sepertiga gas alam cair (LNG) global, sehingga India menjadi importir yang paling terpukul.
Ketergantungan pada Batu Bara akibat Kelangkaan Gas
Pembangkit listrik tenaga gas yang biasanya berfungsi menjembatani celah antara puncak energi surya di siang hari dan beban dasar batu bara di malam hari kini mulai dirasionalisasi. Pasokan LNG dari Qatar yang sebelumnya memasok 40 persen kebutuhan India merosot tajam akibat gangguan logistik di Timur Tengah.
Akibatnya, beban berat kini jatuh kembali pada batu bara. Pada puncak permintaan tanggal 21 Mei 2024, pembangkit listrik termal memasok 62,8 persen dari total beban listrik di India.
Stok batu bara di pembangkit saat ini hanya cukup untuk sekitar 23 hari konsumsi. Jumlah tersebut berada di bawah target penyangga yang ditetapkan pemerintah sebesar 30 hari.
Tantangan Pemenuhan Daya Pascamatahari Terbenam
Meskipun infrastruktur energi bersih berkembang pesat, masalah utama muncul setelah matahari terbenam.
"Puncak permintaan di pagi hari selaras dengan jam operasional surya. Namun untuk puncak malam hari, kita akhirnya menggunakan sumber daya berbasis bahan bakar fosil yang lebih intensif karbon dan berbiaya tinggi," ujar Saloni Sachdeva Michael, spesialis energi dari IEEFA.
India saat ini hanya memiliki sekitar 6 gigawatt kapasitas penyimpanan baterai. Angka ini masih jauh dari perkiraan kebutuhan sebesar 61 gigawatt pada tahun 2030.
Tanpa solusi penyimpanan skala besar, jaringan listrik tetap bergantung pada batu bara dan gas untuk menjaga lampu tetap menyala saat suhu malam hari tetap tinggi. Studi dari University of California, Berkeley, menunjukkan bahwa menggandakan efisiensi AC dapat mengurangi puncak permintaan sebesar 47 gigawatt pada tahun 2035.
Potensi pengurangan tersebut setara dengan kapasitas 100 pembangkit listrik besar sekaligus menghemat biaya listrik konsumen.
"panas ekstrem ini adalah pengingat ganda bagi negara-negara untuk bergerak lebih cepat menuju energi terbarukan demi keamanan energi, keterjangkauan, dan perlindungan ekonomi dari gejolak konflik geopolitik," ujar Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB.