PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) telah menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk memperkuat kinerja keuangan sepanjang tahun 2026. Emiten yang bergerak di sektor komponen otomotif ini memproyeksikan pertumbuhan laba bersih sebesar 15%.
Selain peningkatan laba, perusahaan juga membidik pertumbuhan pendapatan di kisaran 5% hingga 10%. Dikutip dari Industri, fokus utama manajemen BOLT tahun ini adalah memaksimalkan potensi pasar mancanegara melalui penguatan volume ekspor.
Kinerja ekspor Garuda Metalindo menunjukkan tren positif sejak awal tahun. Pada kuartal I-2026, nilai pengiriman ke luar negeri tercatat mencapai Rp 29 miliar, atau melonjak 14,2% secara tahunan (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 25 miliar.
Kontribusi ekspor terhadap total pendapatan juga terus diupayakan meningkat. Sepanjang tahun 2025, pendapatan ekspor menyumbang sekitar Rp 120 miliar atau 7,2% dari total omzet perusahaan yang mencapai Rp 1,67 triliun.
Manajemen menetapkan target agar porsi ekspor terhadap pendapatan tahun ini mampu menyentuh angka 8% hingga 10%. Strategi ini didukung oleh penetrasi pasar yang kian kuat di wilayah Eropa, India, dan Amerika Serikat.
"Pada kuartal I, kinerja ekspor ditopang pengiriman ke Jerman, diikuti oleh India dan negara tujuan lainnya," jelas manajemen BOLT dalam keterangan resmi, Selasa (12/5/2026).
Untuk merealisasikan target tersebut, BOLT mengandalkan tiga pilar utama yakni ekspansi pasar, diversifikasi produk, serta investasi pada teknologi produksi terbaru.
Dalam hal ekspansi, perusahaan memperdalam penetrasi pada segmen kendaraan roda dua dan roda empat. Langkah ini dijalankan bersamaan dengan upaya memanfaatkan perubahan rantai pasok global yang sedang berlangsung saat ini.
BOLT juga berencana memperluas pangsa pasar untuk bahan baku, terutama produk steel wire. Targetnya adalah pasar internasional yang sedang mencari alternatif pemasok bahan baku berkualitas tinggi.
"Dari sisi diversifikasi, kami melihat potensi pertumbuhan yang semakin besar di segmen non-otomotif, termasuk alat berat, infrastruktur, industri umum, serta peluang ekspor steel wire," lanjut manajemen BOLT.
Optimalisasi segmen non-otomotif ini diharapkan dapat memperbaiki bauran pendapatan perusahaan. Selain itu, langkah tersebut bertujuan untuk memperkuat ketahanan bisnis BOLT dalam jangka panjang menghadapi dinamika pasar.
Investasi Teknologi dan Efisiensi Operasional
Aspek teknologi menjadi poin krusial dalam rencana kerja tahun ini. Perusahaan mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 60 miliar untuk tahun 2026 guna mendukung efisiensi produksi.
Sekitar 75% dari total dana belanja modal tersebut dialokasikan khusus untuk pengembangan teknologi. Hal ini mencakup proses digitalisasi menyeluruh serta otomatisasi di berbagai lini bisnis perusahaan.
"Fokus utama mencakup digitalisasi proses bisnis, otomasi, serta inisiatif efisiensi operasional lainnya," imbuh manejemen BOLT.
Implementasi otomatisasi akan dilakukan secara bertahap di seluruh fasilitas pabrik milik perusahaan. Langkah ini diharapkan dapat meminimalkan kesalahan produksi dan mempercepat waktu pengerjaan komponen.
Selain itu, BOLT melakukan penambahan panel surya untuk menekan biaya energi. Perbaikan desain serta engineering juga dilakukan guna mengoptimalkan penggunaan material, sehingga proses produksi menjadi lebih hemat biaya dan tenaga kerja.