FWD Insurance Ungkap 66 Persen Kelas Menengah Khawatirkan Keuangan

FWD Insurance Ungkap 66 Persen Kelas Menengah Khawatirkan Keuangan
Foto: Ilustrasi FWD Insurance Ungkap 66 Persen Kelas Menengah Khawatirkan Keuangan.

Mayoritas masyarakat kelas menengah di Indonesia kini dirundung kekhawatiran terkait stabilitas keuangan mereka untuk saat ini maupun masa depan akibat tekanan ekonomi. Fenomena tersebut terungkap dalam studi terbaru FWD Group bersama Ipsos yang diluncurkan di Jakarta pada Senin (25/5/2026).

Data riset tersebut menunjukkan terjadinya peningkatan tekanan keuangan yang signifikan pada masyarakat kelas menengah, seperti dilansir dari Investortrust. Kenaikan biaya hidup, peningkatan biaya kesehatan, hingga stabilitas pendapatan di masa depan menjadi cakupan utama dari kekhawatiran tersebut.

"Melalui studi tersebut kita juga menemukan bahwa ternyata 66% masyarakat atau responden yang kami survei, juga merasa khawatir terhadap kestabilan keuangan mereka saat ini dan yang akan datang. Hanya 34% yang merasa nyaman atau yakin bagaimana bisa melakukan perencanaan keuangan di masa yang akan datang," ujar Rudy F. Manik, Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance.

Rudy F. Manik menjelaskan lebih lanjut bahwa ketergantungan pada satu sumber pendapatan menjadi pemicu utama kerentanan finansial tersebut. Sebagian besar masyarakat kelas menengah dinilai belum memiliki alternatif pendapatan lain di luar pekerjaan utama mereka.

"Kami juga melihat bahwa masyarakat di menengah ini kebanyakan tergantung kepada active income. Jadi, mereka bekerja, kemudian mendapatkan uang. Namun, risikonya adalah jika ada terjadi risiko terhadap kondisi kehidupan mereka, maka akan langsung mengganggu keuangan mereka saat ini dan masa yang akan datang," jelas Rudy F. Manik.

Kondisi ketergantungan pada pendapatan aktif ini juga diakui sangat relevan dengan kehidupan para pekerja seni. Publik figur, Agatha Suci, membagikan pengalamannya sebagai seorang penyanyi yang mengandalkan kehadiran fisik untuk memperoleh pendapatan.

"Saya sendiri kan saya pekerja seni. Nah, pekerja seni itu juga active income-nya itu sangat penting. Jadi kalau kita tidak tampil, kita tidak dapat penghasilan, intinya begitu lah ya. Walau walau ada yang namanya kalau aku penyanyi, ya dapat persenan dari rekaman dan segala macam itu ada, tapi ya active income tuh sangat amat berpengaruh, 99% lah ya angka angka penghasilan saya. Nah, itulah yang membuat sebenarnya saya dari umur 19 tahun itu sudah melek yang namanya asuransi," tutur Agatha Suci, Publik Figur.

Kesadaran untuk memproteksi diri sejak usia 19 tahun muncul karena ia sudah mulai bekerja sambil kuliah. Baginya, memiliki penghasilan berarti ada tanggung jawab besar terhadap orang-orang di sekitarnya.

"From I was 19 when I have my first insurance. Jiwa, ya? Jiwa sama kesehatan, both. Karena di umur itu kebetulan saya juga sudah berpenghasilan. Gitu, jadi saya kuliah sambil bekerja. Jadi, intinya begini, kalau pikiran bodoh saya lah ya, kalau untuk kita ngomongin ekonomi and everything, I have no idea about it, ya. I mean like, just a little bit lah ya. Really a little bit, makanya harus diskusi dulu sama Pak Rudy supaya terbuka wawasannya. Tapi yang saya tahu pada saat itu, ketika saya punya penghasilan, saya juga pengen punya proteksi. Ya, karena dengan saya memiliki penghasilan, berarti saya menjadi bukan tulang punggung, ya. Jadi, diandalkan oleh pihak-pihak nanti yang saya juga harus nafkahi," tambah Agatha Suci.

Kini, di usianya yang menginjak 41 tahun, Agatha Suci mengaku telah memiliki beberapa macam jenis proteksi demi menjaga rasa aman bagi diri dan keluarganya di masa depan. Salah satunya adalah produk Asuransi Jiwa FWD Income Prosperity yang menggabungkan manfaat tunai tahunan dengan perlindungan jiwa.

Kebutuhan solusi perencanaan keuangan ini semakin relevan di tengah melebarnya jarak inklusi dan literasi keuangan di Indonesia. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan bahwa gap antara inklusi keuangan dan literasi keuangan tahun ini melebar menjadi 14,05% dibandingkan 9,59% pada 2024.

Artikel terkait

Rekomendasi