Komposisi FTSE Equity Index Series mengalami perubahan signifikan menyusul pengumuman quarterly review dari FTSE Russell pada Mei 2026. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Investortrust, penyesuaian ini ditandai dengan keluarnya empat saham asal Indonesia dari daftar indeks tersebut.
Perubahan paling mencolok terjadi pada kategori Large Cap Index, di mana saham PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) resmi dihapus oleh FTSE. Sepanjang tinjauan kuartalan kali ini, pengelola indeks global tersebut tidak melakukan penambahan saham baru untuk kategori kapitalisasi besar.
Langkah pengurangan juga melanda kategori Micro Cap Index. FTSE Russell memutuskan untuk mengeliminasi tiga emiten sekaligus, yaitu saham DAAZ, HILL, dan MLIA, tanpa diiringi oleh masuknya saham baru ke dalam daftar tersebut.
Pengumuman resmi dari FTSE menetapkan bahwa aktivitas penyesuaian portofolio atau rebalancing ini akan mulai diterapkan pada perdagangan saham tanggal 19 Juni 2026. Sementara itu, seluruh perubahan komposisi indeks tersebut bakal berlaku efektif per 22 Juni 2026.
Pergeseran ini diperkirakan memicu rotasi arus modal di bursa domestik. Hal ini terjadi karena perubahan indeks FTSE berpotensi memengaruhi keputusan investasi dari institusi global yang menjadikannya sebagai tolok ukur atau acuan portofolio mereka.
Konteks Perubahan Indeks Global Saham Indonesia
Sebelum FTSE Russell merilis evaluasinya, MSCI telah lebih dahulu melaksanakan rebalancing saham untuk periode Mei 2026. Langkah MSCI tersebut membawa perubahan yang cukup drastis terhadap peta kekuatan saham-saham Indonesia di kancah internasional.
Dalam MSCI Global Standard Indexes, tercatat masih ada 11 saham Indonesia yang mampu mempertahankan posisinya. Emiten yang bertahan mencakup PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII).
Selain lima saham blue chip tersebut, nama-nama lain yang tetap bertengger adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Sebaliknya, enam saham terpaksa keluar dari MSCI Global Standard Indexes. Jajaran saham yang tereliminasi meliputi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Sementara itu, pada kategori MSCI Global Small Cap Indexes, sebanyak 43 saham Indonesia dipastikan tetap bertahan setelah adanya pengurangan 13 emiten. Salah satu penghuni kategori ini adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang mengalami penurunan kelas dari indeks standar.
Beberapa emiten lain yang mengisi daftar MSCI Global Small Cap Indexes tersebut antara lain ADRO, AADi, AKRA, BBTN, BUKA, BUMI, CMRY, ENERG, FILM, GGRM, INCO, INDF, serta PTRO.