FSGI Catat 4.755 Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis

FSGI Catat 4.755 Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis
Foto: Ilustrasi FSGI Catat 4.755 Korban Keracunan Makan Bergizi Gratis.

Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengungkapkan sebanyak 4.755 anak menjadi korban keracunan massal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai wilayah selama periode Januari hingga Februari 2026. Data mengejutkan mengenai dampak pelaksanaan program nasional tersebut dilansir dari Edukasi pada Minggu (5/4/2026).

Lonjakan kasus keracunan ini memicu desakan kuat dari organisasi guru agar pemerintah segera melakukan evaluasi total terhadap sistem pengawasan pangan sekolah. Berdasarkan laporan berkala, jumlah korban pada bulan pertama tahun ini sempat melonjak tinggi sebelum akhirnya mengalami penurunan pada bulan berikutnya.

Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti memaparkan rincian fluktuasi data korban yang terjadi selama dua bulan pertama tahun berjalan. Penurunan jumlah kasus yang terjadi pada bulan kedua dinilai belum menyelesaikan substansi masalah keamanan pangan program tersebut.

"Angka ini memang turun 32,2 persen dibanding Januari yang mencapai 2.835 orang," kata Retno Listyarti, Ketua Dewan Pakar FSGI.

Meskipun terjadi penurunan secara bulanan, akumulasi total korban dalam waktu singkat tersebut dinilai mencerminkan adanya kegagalan sistemik. FSGI mengkritik sikap jajaran otoritas yang dianggap lebih fokus pada visualisasi capaian program dibandingkan penyelesaian kasus medis di lapangan.

"Menurut FSGI terkait kebijakan MBG, Pemeritah sering kali menggunakan angka untuk menunjukkan keberhasilan. Namun abai menganalisa saat ada kasus keracunan MBG, padahal angka keracunan justru menunjukkan masalah yang semakin serius," ujar Retno Listyarti, Ketua Dewan Pakar FSGI.

Pihak asosiasi mengingatkan bahwa penurunan angka pada periode tertentu disebabkan oleh adanya momentum libur panjang keagamaan nasional, bukan karena perbaikan sistem kualitas. Jika pola pengawasan tidak diubah secara radikal, potensi ancaman kesehatan serupa dipastikan akan kembali meluas ke berbagai daerah.

"Ketika jumlahnya ribuan, itu bukan lagi kesalahan kecil, melainkan tanda bahwa evaluasi besar-besaran perlu dilakukan," ucap Retno Listyarti, Ketua Dewan Pakar FSGI.

Kondisi pada tahun ini menunjukkan perburukan tren yang signifikan jika dibandingkan dengan rekam jejak kasus pada periode tahun sebelumnya. Evaluasi komparatif menunjukkan adanya peningkatan laju korban yang mengkhawatirkan setiap bulannya.

"Berarti ada kenaikan signifikan korban keracunan MBG," ujar Fahriza Marta Tanjung, Ketua Umum FSGI.

Peningkatan laju rata-rata korban bulanan yang mencapai lebih dari empat puluh persen menjadi indikator kuat bahwa manajemen risiko program belum berjalan optimal. Kelompok rentan seperti anak sekolah, balita, hingga ibu hamil kini justru menghadapi risiko kesehatan dari program yang semula bertujuan meningkatkan nutrisi.

"Ini bukan kenaikan kecil. Artinya, dalam waktu yang lebih singkat, jumlah korban justru bertambah lebih cepat," tambah Fahriza Marta Tanjung, Ketua Umum FSGI.

Sebagai rekomendasi akhir, asosiasi menegaskan bahwa mata rantai penyediaan makanan dari hulu ke hilir harus segera diperiksa secara ketat. Kegagalan berulang ini mengindikasikan adanya kelemahan mendasar pada aspek higienitas dan pemeliharaan mutu logistik.

"Jika kasus keracunan terjadi berulang dan melibatkan ribuan orang, berarti ada masalah dalam pengawasan, kualitas bahan makanan, kebersihan, atau distribusinya," tegas Fahriza Marta Tanjung, Ketua Umum FSGI.

Artikel terkait

Rekomendasi