Friderica Widyasari Dewi Ukir Sejarah Jadi Pjs Ketua OJK Perempuan Pertama

Friderica Widyasari Dewi Ukir Sejarah Jadi Pjs Ketua OJK Perempuan Pertama
Foto: Ilustrasi Friderica Widyasari Dewi Ukir Sejarah Jadi Pjs Ketua OJK Perempuan Pertama.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mencetak sejarah kepemimpinan baru dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Dilansir dari Investortrust, Friderica Widyasari Dewi kini resmi ditunjuk sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK.

Perempuan yang akrab disapa Kiki ini menjadi figur wanita pertama yang menduduki pucuk pimpinan tertinggi lembaga tersebut. Ketetapan strategis ini diambil pada Sabtu (31/1/2026) malam.

Status pejabat sementara (Pjs) yang disandang Kiki membawa kewenangan penuh, baik dalam ranah taktis maupun operasional regulator keuangan. Posisi ini menempatkannya di titik kendali tertinggi institusi yang mengawasi sektor perbankan, pasar modal, perasuransian, pelindungan konsumen, hingga aset kripto.

Sebelum Kiki menjabat, nakhoda tertinggi OJK dipegang oleh Muliaman D. Hadad periode 2012ÔÇô2017, disusul Wimboh Santoso periode 2017ÔÇô2022. Selanjutnya, Mahendra Siregar menjabat sejak 2022 hingga menyatakan mengundurkan diri pada 30 Januari 2026.

Berdasarkan data dari tim Datatrust Investortrust, saat ini hanya ada 16 negara di dunia yang mengimplementasikan konsep lembaga regulator keuangan terintegrasi. Dari jumlah tersebut, keterwakilan perempuan di posisi puncak masih tergolong sangat minim.

Beberapa nama pemimpin perempuan dunia di sektor ini antara lain Nathalie Aufauvre di ACPR Prancis dan Louise Caroline Mogensen di DFSA Denmark. Selain itu, terdapat nama Elvira Nabiullina yang memimpin Bank Sentral Rusia (CBR).

Latar belakang karier Kiki di dunia keuangan telah terbangun secara konsisten sejak lama. Publik sempat mengenalnya di dunia seni peran pada akhir 1990-an, namun ia memilih fokus mendalami ilmu keuangan di California State University of Fresno, Amerika Serikat.

Setelah meraih gelar Master, Kiki aktif membagikan ilmunya dengan mengajar di sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia dan Atma Jaya. Kiprah profesionalnya dimulai di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga berhasil menduduki posisi Direktur Pengembangan Bisnis.

Jabatan tersebut menjadikannya sebagai direksi termuda sekaligus satu-satunya perempuan di jajaran manajemen BEI periode 2009ÔÇô2012. Saat itu, putri dari pasangan Soegih Hidayat dan Caecilia Hanggarini ini gencar mengampanyekan tata kelola perusahaan yang baik dan penguatan kapitalisasi pasar.

Karakter kepemimpinan Kiki yang tegas dan taktis kerap terlihat saat dirinya memimpin konferensi pers bulanan OJK. Gaya komunikasinya yang lugas dinilai mampu membangun kepercayaan di mata pelaku industri dan mitra finansial internasional.

Guru Besar Ekonomi Bisnis Unika Atma Jaya, Rosdiana Sijabat, menilai Kiki sebagai personifikasi dari ketelitian dan tata kelola yang penuh kehati-hatian. Pengalamannya di ranah publik juga dianggap menjadi nilai tambah yang besar.

"Setidaknya sebagai pemimpin perempuan pertama di OJK, Mbak Kiki diharapkan membawa penyegaran dari sisi leadership style," katanya kepada Investortrust, Sabtu (7/2/2026).

Relevansi Pemikiran Akademik dan Isu Struktural

Langkah Kiki di pucuk pimpinan OJK sejalan dengan kajian akademis yang pernah ia lakukan mengenai tantangan pasar modal. Pada tahun 2019, ia menyelesaikan studi Doktoral di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan predikat Cumlaude.

Disertasinya yang berjudul ÔÇ£Analisis Dampak Struktur Kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan dan Risiko pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek IndonesiaÔÇØ memotret persoalan mendasar investasi nasional. Kiki menyoroti bagaimana konsentrasi kepemilikan berisiko menimbulkan ketimpangan bagi pemegang saham minoritas.

Kajian tersebut juga mengkritisi rendahnya partisipasi investor domestik yang kala itu masih di bawah 1 persen dari total populasi. Kondisi tersebut dinilai belum optimal dalam mendukung pemerataan kesejahteraan yang diamanatkan Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995.

Sebagai informasi, data per akhir 2025 menunjukkan jumlah investor pasar modal telah menyentuh angka 20,32 juta single investor identification (SID). Angka ini terus berkembang di tengah jumlah populasi penduduk Indonesia yang saat ini berada di atas 287 juta jiwa.

Biodata Singkat Dr. Friderica Widyasari Dewi SE, MBA

Tempat tanggal lahir: Cepu, Jawa Tengah, 28 November 1975

Riwayat Pendidikan Formal:

1. 2019: Doktor (S3) Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, Universitas Gadjah Mada (UGM) - Predikat Cumlaude.

2. 2004: Master of Business Administration (MBA), California State University of Fresno, Amerika Serikat.

3. 2001: Sarjana Ekonomi (SE), Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pengalaman Kerja Strategis:

1. 2022ÔÇôSaat ini: Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK.

2. 2020ÔÇô2022: Direktur Utama PT BRI Danareksa Sekuritas.

3. 2016ÔÇô2019: Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

4. 2015ÔÇô2016: Direktur Keuangan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

5. 2009ÔÇô2015: Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

6. 2023ÔÇôSaat ini: Koordinator Dewan Pembina Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (SATGAS PASTI) dan Indonesia Anti Scam Centre (IASC).

7. 2023ÔÇôSaat ini: Anggota Komite Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat.

Kiprah di Organisasi Internasional:

1. 2022ÔÇôSaat ini: Advisory Board pada The OECD International Network on Financial Education (OECD/INFE).

2. 2022ÔÇôSaat ini: Governing Council pada the International Financial Consumer Protection Organisation (FinCoNet).

Sertifikasi Profesional:

1. Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Wakil Penjamin Emisi Efek (WPEE) yang diterbitkan oleh OJK (2019).

Artikel terkait

Rekomendasi