FBI Selidiki Misteri Kematian dan Hilangnya 10 Ilmuwan Nuklir AS

FBI Selidiki Misteri Kematian dan Hilangnya 10 Ilmuwan Nuklir AS
Foto: Ilustrasi FBI Selidiki Misteri Kematian dan Hilangnya 10 Ilmuwan Nuklir AS.

FBI menyatakan komitmennya untuk menyelidiki potensi keterkaitan di balik kasus hilangnya dan meninggalnya setidaknya 10 individu yang berafiliasi dengan penelitian nuklir serta antariksa Amerika Serikat. Langkah ini diambil guna menjawab kekhawatiran publik mengenai apakah rentetan peristiwa tersebut merupakan kebetulan belaka atau memiliki pola tertentu.

Dilansir dari Detik iNET, biro investigasi federal tersebut akan berkoordinasi dengan Departemen Energi, Departemen Perang, dan aparat penegak hukum lainnya dalam mencari jawaban. Penyelidikan ini juga mendapat perhatian serius dari Komite Pengawas DPR yang dipimpin oleh Partai Republik.

Konteks penyelidikan ini mencakup berbagai latar belakang kasus, mulai dari pembunuhan yang belum terpecahkan hingga hilangnya orang tanpa jejak tindak kriminal. Meski demikian, pihak berwenang sejauh ini belum menemukan bukti konkret yang menghubungkan satu kasus dengan kasus lainnya.

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa lembaga-lembaga federal tengah bekerja sama untuk mendalami fenomena ini. Presiden Donald Trump menyebut situasi tersebut sebagai masalah yang sangat serius bagi stabilitas negara.

"Sangat kecil kemungkinannya ini kebetulan," kata Ketua Pengawas DPR James Comer.

"Kongres sangat mengkhawatirkan hal ini. Komite kami menjadikannya salah satu prioritas kami saat ini karena kami memandangnya sebagai ancaman keamanan nasional."

Di sisi lain, anggota DPR dari Demokrat, James Walkinshaw, menilai penyelidikan memang diperlukan namun ia meragukan adanya motif terkoordinasi dari pihak asing.

"AS memiliki ribuan ilmuwan dan pakar nuklir. Ini bukanlah jenis program nuklir yang berpotensi dapat terdampak signifikan oleh musuh asing hanya dengan menargetkan 10 individu," sebutnya.

Rangkaian Kasus di NASA dan JPL

Gelombang misteri ini bermula pada tahun 2023 dengan wafatnya Michael David Hicks, seorang ilmuwan veteran dari Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA yang telah mengabdi selama 25 tahun. Hicks, yang merupakan ahli riset komet dan asteroid, meninggal pada 30 Juli 2023 tanpa penyebab kematian yang diumumkan secara publik.

Julia Hicks, putri dari Michael, mengungkapkan bahwa ayahnya sempat berjuang melawan masalah kesehatan sebelum meninggal dunia.

"Saya tidak mengerti hubungan antara kematian ayah saya dan para ilmuwan hilang lainnya. Saya tak bisa menahan tawa mendengarnya, namun di saat yang sama, ini mulai menjadi serius," ujarnya.

Setelah insiden tersebut, beberapa kolega Hicks di JPL juga mengalami nasib serupa. Frank Maiwald, spesialis riset antariksa, tutup usia di Los Angeles pada 2024. Setahun kemudian, Monica Reza yang menjabat sebagai direktur di Lab NASA menghilang saat melakukan pendakian di hutan Los Angeles pada Juni 2025.

Kasus Hilang di Albuquerque dan New Mexico

Misteri berlanjut dengan hilangnya William Neil McCasland, pensiunan Mayor Jenderal Angkatan Udara yang terakhir terlihat di Albuquerque pada 27 Februari. McCasland meninggalkan seluruh perangkat pribadinya, termasuk ponsel dan kacamata resep, di rumahnya.

Di New Mexico, dua staf dari Laboratorium Nasional Los Alamos, Melissa Casias dan Anthony Chavez, juga dilaporkan hilang. Casias terakhir kali terlihat pada Juni 2025 dengan meninggalkan ponsel yang telah diatur ulang ke setelan pabrik, sementara Chavez menghilang satu bulan sebelumnya.

Insiden Penembakan dan Whistleblower

Dunia akademik juga diguncang oleh kematian Profesor Nuno F.G. Loureiro dari MIT yang ditembak mati di rumahnya pada Desember 2025. Selain itu, ahli astrofisika Carl Grillmair dari Caltech juga tewas tertembak di kediamannya di Los Angeles pada Februari lalu.

Kematian Matthew James Sullivan, mantan perwira intelijen AU pada 2024, turut menjadi sorotan karena terjadi sesaat sebelum ia dijadwalkan bersaksi dalam kasus whistleblower UFO. Anggota DPR Eric Burlison menyebut kematian Sullivan yang dianggap bunuh diri sebagai hal yang mencurigakan.

"Ia dijadwalkan datang untuk sebuah wawancara. Dalam waktu dua minggu, ia secara mencurigakan bunuh diri," ungkap Burlison.

Sementara itu, pihak keluarga Amy Eskridge, pendiri Institute for Exotic Science yang meninggal pada 2022, meminta publik untuk tetap tenang dan tidak membesar-besarkan situasi ini.

"Orang harus menyadari para ilmuwan juga meninggal dan (jangan) membesar-besarkan hal ini," imbau pihak keluarga.

Artikel terkait

Rekomendasi