Industri Farmasi Indonesia Geser Penanganan Obesitas ke Terapi Medis Biologis

Industri Farmasi Indonesia Geser Penanganan Obesitas ke Terapi Medis Biologis
Foto: Ilustrasi Industri Farmasi Indonesia Geser Penanganan Obesitas ke Terapi Medis Biologis.

Pelaku industri kesehatan dan farmasi di Indonesia mulai mengalihkan fokus penanganan obesitas dari program diet konvensional ke terapi medis berbasis biologis pada Sabtu (9/5/2026). Langkah ini diambil guna merespons tingginya prevalensi obesitas nasional yang menempatkan Indonesia di peringkat ketiga se-Asia Tenggara.

Dilansir dari Lifestyle, pergeseran paradigma ini didorong oleh kebutuhan penanganan yang lebih komprehensif terhadap gangguan mekanisme tubuh. Penggunaan terapi medis dinilai krusial karena obesitas bukan sekadar persoalan gaya hidup, melainkan kondisi medis yang berkaitan dengan sistem saraf dan hormon.

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), dr. Iflan Nauval, menekankan pentingnya memperbaiki fungsi biologis pasien. Pendekatan baru ini mulai meninggalkan metode perhitungan kalori semata demi hasil yang lebih berkelanjutan.

"Intervensi gaya hidup dan terapi medis merupakan hal yang saling melengkapi untuk memperbaiki mekanisme tubuh yang tidak bisa diselesaikan oleh diet saja," ujar Iflan Nauval.

Menurutnya, banyak pasien gagal mempertahankan berat badan ideal karena adanya gangguan neuroendokrin yang mengatur sinyal lapar. Terapi medis hadir untuk mengisi celah yang tidak bisa diatasi hanya dengan pengaturan pola makan ketat.

Kondisi pasar ini mendorong perusahaan farmasi global Novo Nordisk Indonesia untuk memperluas edukasi mengenai terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA). Terapi tersebut kini menjadi perhatian utama karena kemampuannya memengaruhi pusat pengaturan nafsu makan di otak.

Dalam diskusi media bertajuk Food Noise Mereda, Berat Badan Terjaga: Bersama Mengubah Paradigma Obesitas, perusahaan menyoroti fenomena dorongan pikiran obsesif terhadap makanan atau food noise. Terapi GLP-1 RA diklaim secara klinis mampu membantu sepertiga pasien menurunkan berat badan hingga lebih dari 20% dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.

Associate Director Clinical, Medical, and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, Riyanny Meisha Tarliman, menyatakan bahwa pemahaman terhadap kompleksitas penyakit ini sangat diperlukan.

"Dengan memahami bahwa obesitas adalah penyakit kompleks, kita dapat mendorong penanganan yang lebih tepat dan berbasis sains," ujar Riyanny Meisha Tarliman.

Pertumbuhan permintaan pengobatan penyakit metabolik ini menjadi motor penggerak baru bagi industri farmasi global. Selain efektivitas penurunan berat badan, intervensi medis profesional kini menjadi standar baru dalam pengelolaan obesitas di tanah air.

Artikel terkait

Rekomendasi