Tren Eating Your Skincare Viral di TikTok Begini Fakta Medisnya

Tren Eating Your Skincare Viral di TikTok Begini Fakta Medisnya
Foto: Ilustrasi Tren Eating Your Skincare Viral di TikTok Begini Fakta Medisnya.

Tren kecantikan bertajuk 'Eating Your Skincare' tengah menjadi perbincangan hangat di platform TikTok. Fenomena ini memperlihatkan para pengguna mengonsumsi bahan pangan tertentu yang diklaim memiliki efektivitas setara dengan produk perawatan kulit konvensional.

Beberapa contoh yang jamak ditemukan meliputi konsumsi jus wortel sebagai pengganti retinol, ikan demi asupan kolagen, hingga jeruk untuk memenuhi kebutuhan vitamin C. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kulit yang tampak sehat dan bercahaya melalui asupan nutrisi.

Dilansir dari Wolipop, Jess Sepel yang merupakan ahli gizi sekaligus pendiri JSHealth Vitamins menjelaskan bahwa kondisi kulit sebenarnya merupakan refleksi dari kesehatan internal tubuh. Menurutnya, kesehatan sistem pencernaan memiliki pengaruh besar terhadap tampilan fisik kulit seseorang.

Dokter estetika dan dokter umum di National Health Service Inggris, Alicia Gonzalez-Fernandez, membenarkan bahwa pola makan memegang peranan krusial. Nutrisi yang tepat memang dibutuhkan untuk menjaga fungsi kulit tetap optimal dari waktu ke waktu.

Popularitas konsep ini dipicu oleh anggapan bahwa perawatan dari dalam jauh lebih bersih dan alami dibandingkan mengoleskan bahan kimia. Meski demikian, para ahli menekankan bahwa suplemen dan makanan hanya bersifat sebagai pendukung bagi kesehatan kulit.

"Perawatan kulit secara oral seperti ini memang bisa didukung dengan konsumsi suplemen yang membantu kesehatan kulit," kata Lorraine Perretta, kepala nutrisi di Advanced Nutrition Programme.

Penelitian klinis membuktikan bahwa zat-zat seperti polifenol, karotenoid, dan vitamin C mampu memperkuat lapisan pelindung kulit jika dikonsumsi rutin. Namun, makanan seperti sarden atau wortel tetap tidak bisa menggantikan fungsi spesifik dari produk yang diaplikasikan langsung ke wajah.

Perbedaan Cara Kerja Nutrisi Oral dan Topikal

Nicola Bradshaw, seorang ahli herbal medis dan ahli gizi, memberikan peringatan bahwa sains di balik tren ini tidak sesederhana yang terlihat di media sosial. Ia menegaskan bahwa manfaat makanan sehat tidak bisa disamakan begitu saja dengan skincare topikal.

Wortel memang kaya akan vitamin A, namun mekanisme kerjanya berbeda total dengan retinol yang dioleskan ke kulit. Demikian pula dengan vitamin C dalam jeruk yang tidak memiliki kemampuan menembus lapisan kulit seperti halnya serum yang dirancang secara khusus.

Sinergi Perawatan Dalam dan Luar

Para ahli menyarankan agar masyarakat memandang asupan makanan dan skincare sebagai dua hal yang saling melengkapi. Hasil maksimal akan tercapai jika proses biologis dari dalam didukung oleh proteksi dan hidrasi dari luar.

"Kulit adalah organ dua sisi yang bisa dirawat dari dalam dan luar tubuh agar hasilnya maksimal. Diet dan skincare dapat saling melengkapi meski pada dasarnya berbeda," ujar Perretta.

Faktor lain seperti paparan sinar ultraviolet, kondisi hormon, genetik, dan rutinitas harian juga sangat menentukan kesehatan kulit. Oleh karena itu, mengandalkan satu aspek saja tanpa memperhatikan perawatan kulit rutin tidak akan membuahkan hasil yang diinginkan.

"Hal ini karena kulit juga dipengaruhi paparan sinar matahari, faktor genetik, hormon, dan kebiasaan perawatan kulit. Karena itu, kombinasi perawatan dari dalam dan luar memang paling baik," tutur Dr. Gonzalez-Fernandez.

Nutrisi dari makanan berperan penting dalam mendukung struktur kulit, produksi kolagen, serta regenerasi sel. Sementara itu, penggunaan skincare topikal berfungsi untuk menghidrasi, meminimalisir iritasi, serta melindungi permukaan kulit dari radikal bebas secara langsung.

Artikel terkait

Rekomendasi