Tim SAR Evakuasi Penumpang Terjepit Kecelakaan KRL di Bekasi Timur

Tim SAR Evakuasi Penumpang Terjepit Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
Foto: Ilustrasi Tim SAR Evakuasi Penumpang Terjepit Kecelakaan KRL di Bekasi Timur.

Tim SAR berhasil mengevakuasi Endang Kuswati (40), seorang penumpang yang terjepit selama sepuluh jam di dalam gerbong KRL akibat kecelakaan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Selasa (28/4/2026). Insiden tragis tersebut mengakibatkan 15 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.

Kecelakaan maut ini melibatkan KRL jurusan Cikarang bernomor PLB 5568A dan KA Argo Bromo Anggrek relasi GambirÔÇôSurabaya Pasar Turi sekitar pukul 20.52 WIB, Senin malam. Berdasarkan data yang dilansir dari Megapolitan, titik benturan berada di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920.

Iqbal, sepupu korban, menceritakan bahwa keluarga sempat mengalami kepanikan saat mencari keberadaan Endang di lokasi kejadian sejak pukul 22.30 WIB. Informasi kepastian posisi korban baru didapatkan pihak keluarga setelah melihat dokumentasi dari seorang jurnalis foto di lapangan.

"Dia telepon kalau misalkan dia itu jadi salah satu korban yang ada di kereta tersebut," kata Iqbal saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa (28/4/2026).

Setelah penantian panjang, bantuan informasi dari awak media menjadi titik terang bagi keluarga untuk mengetahui kondisi terkini korban yang masih terperangkap di dalam rangkaian kereta yang rusak berat.

"Jadi awalnya kami mau naik ke atas itu kan enggak boleh naik ke atas ya. Kebetulan ketemu sama salah satu wartawan, dia fotografer gitu. Nah, saya lihat beberapa fotonya ternyata kelihatan ada sepupu saya itu, kelihatan dari celah-celah gitu posisi terjepit kan," ujar Iqbal.

Kondisi Endang saat ditemukan sangat memprihatinkan dengan posisi terjepit di ujung gerbong khusus wanita. Petugas medis dilaporkan segera memberikan bantuan oksigen dari luar celah gerbong untuk menjaga kondisi korban agar tetap stabil selama proses pemotongan badan kereta dilakukan.

"Jadi aku dapat salah satu foto dari pers itu, korban itu masih di dalam dalam kondisi lemas dan udah di dalam proses dikasih oksigen dari luar," sambung dia.

Melihat kondisi kritis tersebut, tim evakuasi memberikan kelonggaran bagi keluarga inti untuk memberikan dukungan secara langsung. Suami dan anak korban diizinkan masuk ke area steril guna menjaga semangat korban yang mulai melemah akibat kelelahan fisik.

"Akhirnya langsung masuk ke dalam, suami dan anaknya sempat mendampingi lah, setidaknya sedikit gitu memberikan semangat ya sekitar jam 02.00 WIB. Anaknya juga diizinin untuk masuk melihat kondisinya," ucap dia.

Proses pengangkatan tubuh Endang baru bisa diselesaikan pada pagi hari karena rumitnya medan evakuasi. Petugas harus memindahkan material gerbong dan korban lain yang menghalangi akses menuju posisi Endang di bagian paling belakang rangkaian.

"Untuk dievakuasi itu sekitar jam 07.00 WIB ya, karena kita nungguin dari korban-korban yang lain dulu, karena saudaraku sendiri ada di paling belakang, jadi kita nunggu dari korban-korban yang di depan-depannya untuk dievakuasi," jelas Iqbal.

Saat ini, Endang telah dilarikan ke RSUD Kota Bekasi untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Pihak rumah sakit masih melakukan observasi menyeluruh guna memastikan tingkat cedera yang dialami korban setelah terhimpit reruntuhan kereta dalam durasi yang sangat lama.

"Untuk update kondisi sekarang saat ini tuh korban lagi di-rontgen ya, karena ketika diangkat badannya yang dialami itu bengkak-bengkak gitu karena udah kurang lebih 10 jam di balik reruntuhan. Jadi saat ini kita masih menunggu hasil rontgen apakah ada patah tulang ataupun yang lain-lainnya," kata Iqbal.

Sebanyak 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat dalam peristiwa ini. Sementara itu, puluhan korban luka lainnya telah didistribusikan ke berbagai rumah sakit di wilayah Bekasi, termasuk RS Bella, RS Primaya, hingga RS Mitra Keluarga.

Artikel terkait

Rekomendasi