Sejumlah Emiten Bursa Efek Indonesia Marak Gelar Aksi Korporasi

Sejumlah Emiten Bursa Efek Indonesia Marak Gelar Aksi Korporasi
Foto: Ilustrasi Sejumlah Emiten Bursa Efek Indonesia Marak Gelar Aksi Korporasi.

Sejumlah emiten dari berbagai sektor mulai dari kesehatan hingga pertambangan ramai melakukan penggalangan dana melalui skema private placement dan rights issue pada Mei 2026. Langkah ini diambil guna memenuhi kebutuhan pendanaan di tengah kondisi pasar saham yang masih fluktuatif.

Dilansir dari Money, PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) telah merealisasikan perolehan dana sebesar Rp 7,97 miliar. Perusahaan sektor kesehatan ini menerbitkan 29,65 juta saham baru seharga Rp 269 per lembar yang diserap seluruhnya oleh investor individu nonafiliasi, Gene Richard.

Penjelasan mengenai alokasi dana tersebut disampaikan oleh pihak manajemen perusahaan melalui pernyataan resmi pada Jumat (8/5/2026).

ÔÇ£Rencana penggunaan dana private placement ialah untuk pengembangan usaha perseroan dalam bentuk modal kerja, penambahan outlet, pembelian saham dan aset atau penyertaan saham pada satu atau lebih perusahaan di industri yang relevan dengan kegiatan usaha grup perseroan,ÔÇØ tulis VP Sekretaris Perusahaan DGNS Stefanus Ivanly.

Selain DGNS, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) berencana menerbitkan 2,44 miliar saham baru, sementara PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) akan merilis 1,4 miliar saham Seri C. Aksi serupa juga direncanakan oleh PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME).

Sektor energi dan mobilitas turut meramaikan tren penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menargetkan penerbitan 13,5 miliar saham, sedangkan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyiapkan 25 miliar saham baru guna memperkuat modal kerja anak usaha.

Analisis mengenai maraknya fenomena penggalangan dana ini menyoroti bahwa motif perusahaan tidak selalu terbatas pada ekspansi bisnis semata.

ÔÇ£Ada juga yang digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, modal kerja, akuisisi, hingga perbaikan neraca,ÔÇØ ujar Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan.

Ekky menambahkan bahwa keberhasilan aksi ini sangat bergantung pada kejelasan prospek bisnis dan daya tarik harga pelaksanaan bagi para investor strategis.

ÔÇ£Investor masih bisa menyerap aksi korporasi apabila prospek bisnisnya jelas, penggunaan dananya produktif, harga pelaksanaannya menarik, serta ada dukungan dari pemegang saham utama atau investor strategis,ÔÇØ kata Ekky.

Meski memberikan peluang pendanaan, investor diperingatkan untuk memperhatikan potensi penurunan nilai kepemilikan saham akibat bertambahnya jumlah saham beredar.

ÔÇ£Namun, jika dilusinya besar dan prospek bisnisnya belum jelas, sebaiknya lebih berhati-hati,ÔÇØ jelas Ekky.

Risiko penurunan valuasi juga menjadi poin krusial jika dana yang dihimpun tidak mampu memberikan kontribusi balik yang signifikan terhadap kinerja operasional perusahaan.

ÔÇ£Jika private placement atau rights issue kurang dioptimalkan, maka akan menyebabkan derating valuation atau penurunan valuasi sebagai akibat dari jumlah saham beredar yang lebih banyak, sehingga harga saham emiten pelaksana aksi korporasi tersebut berpotensi turun,ÔÇØ ujar Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su.

Peningkatan jumlah aksi korporasi ini diprediksi akan terus berlanjut seiring dengan membaiknya stabilitas di pasar modal Indonesia pada periode mendatang.

ÔÇ£Emiten yang akan memaksimalkan rights issue adalah emiten yang memanfaatkan dananya untuk kegiatan ekspansi seperti,ÔÇØ imbuh Harry Su.

Data proyeksi menunjukkan risiko dilusi private placement MDKA berada di angka 9,09 persen. Sementara itu, potensi dilusi yang lebih besar membayangi investor VKTR dan PT Pyridam Farma Tbk (PYFA), masing-masing mencapai 36,36 persen dan 45,69 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi