Emiten LQ45 Siapkan Anggaran Jumbo Gelar Buyback Saham di Tengah Tekanan Pasar

Emiten LQ45 Siapkan Anggaran Jumbo Gelar Buyback Saham di Tengah Tekanan Pasar
Foto: Ilustrasi Emiten LQ45 Siapkan Anggaran Jumbo Gelar Buyback Saham di Tengah Tekanan Pasar.

Sejumlah perusahaan terbuka yang melantai di Bursa Efek Indonesia bersiap mengeksekusi aksi pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai fantastis. Langkah strategis ini diambil di tengah kondisi pasar saham domestik yang sedang mengalami tekanan.

Beberapa emiten yang berencana menggelar aksi korporasi tersebut masuk dalam konstituen indeks bergengsi LQ45, seperti dikutip dari Stocksetup. Dua di antaranya adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

PT Telkom Indonesia Tbk dijadwalkan meminta persetujuan dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang akan diselenggarakan pada 8 Juni 2026. Perusahaan pelat merah ini telah mengalokasikan dana yang cukup besar.

TLKM menyiapkan anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk aksi korporasi tersebut. Nilai itu sudah termasuk biaya transaksi dan biaya lain yang berkaitan dengan buyback saham.

Di sisi lain, GOTO mengalokasikan dana yang jauh lebih besar untuk program serupa. Perusahaan teknologi ini menyediakan dana maksimal sebesar Rp 3,5 triliun untuk membeli kembali sahamnya di pasar.

Manajemen GOTO akan meminta restu pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Juni 2026. Periode pelaksanaan akan berlangsung selama satu tahun jika mendapat persetujuan.

Jika memperoleh persetujuan, buyback saham GOTO akan berlangsung selama satu tahun, yakni mulai 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027.

Pihak manajemen GOTO menegaskan bahwa kondisi kas internal saat ini sangat mumpuni. Mereka optimistis langkah ini tidak akan mengganggu aktivitas operasional maupun kondisi finansial perseroan secara material.

GOTO menyebut aksi buyback dilakukan untuk memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan modal, termasuk optimalisasi struktur permodalan dan mendukung kinerja harga saham agar sejalan dengan fundamental perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026, GOTO berhasil membukukan arus kas bebas yang disesuaikan positif senilai Rp 1,3 triliun. Pada komparasi periode yang sama, aset perusahaan tercatat Rp 46,78 triliun dengan liabilitas Rp 18 triliun dan ekuitas Rp 28,82 triliun.

Selain dua raksasa LQ45 tersebut, emiten dari sektor industri pengolahan makanan olahan daging juga tidak mau ketinggalan. PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) berencana melaksanakan agenda serupa mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027.

Meski demikian, skala modal yang disiapkan BEEF relatif lebih kecil dibandingkan GOTO dan TLKM. Perusahaan ini menganggarkan dana sebesar Rp 100 miliar untuk membeli saham publik.

BEEF berencana membeli kembali maksimal 333,33 million saham dengan harga maksimal Rp 300 per saham.

Rencana aksi korporasi berskala besar dari TLKM dan GOTO ini mendapat perhatian serius dari para pengamat pasar modal. Langkah ini dinilai sebagai respons taktis yang sangat krusial di tengah fluktuasi indeks domestik.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai aksi buyback jumbo oleh TLKM dan GOTO menjadi sinyal penting di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gaugan (IHSG) dan arus keluar dana investor asing.

Menurut Hendra, pembelian kembali saham ini secara umum menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas volatilitas harga, mengembalikan kepercayaan pasar, sekaligus mengindikasikan bahwa manajemen melihat harga saham saat ini sudah terlalu murah.

ÔÇ£Buyback memang tidak selalu langsung membuat harga saham melonjak tajam, tetapi cukup efektif membantu menahan tekanan jual berlebihan, mengurangi volatilitas, serta memperbaiki persepsi pasar terhadap fundamental,ÔÇØ ujar Hendra kepada Kontan, Senin (18/5/2026).

Hendra memproyeksikan bahwa langkah TLKM akan bekerja lebih efektif dalam meredam gejolak harga saham. Hal tersebut didukung oleh kekuatan fundamental operasional yang matang serta dominasi investor institusi yang loyal.

Ia menilai buyback TLKM berpotensi lebih efektif menjaga kestabilan harga saham karena didukung fundamental yang matang dan basis investor yang kuat.

Menurut Hendra, ketika tekanan jual asing mulai mereda dan pasar kembali stabil, TLKM berpotensi menjadi salah satu saham defensif pilihan investor institusi.

Sementara untuk kasus GOTO, pembelian kembali saham dipandang lebih condong berfungsi sebagai peredam sentimen negatif psikologis pasar. Ini juga mencerminkan optimisme internal bahwa proses pemulihan bisnis korporasi berjalan sesuai proyeksi.

Pandangan senada juga diutarakan oleh analis teknikal senior. Pembelian saham oleh emiten ini dipandang mampu menjaga ketersediaan volume transaksi di pasar reguler agar tetap likuid.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan aksi buyback saham yang dilakukan GOTO dan TLKM juga bertujuan menjaga likuiditas perdagangan saham.

Nafan menambahkan bahwa sentimen positif ini akan sangat menguntungkan bagi saham-saham yang saat ini posisinya sudah berada di area jenuh jual atau jenuh koreksi, seperti saham teknologi GOTO.

Nafan merekomendasikan beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.220 per saham.

Sementara itu, Hendra menilai TLKM layak speculative buy dengan target harga Rp 3.330 per saham. Adapun saham GOTO dinilai cocok bagi investor agresif yang memburu peluang recovery jangka menengah dengan pendekatan speculative oversold.

Artikel terkait

Rekomendasi