Ekstrak Bawang Bombay Mampu Turunkan Gula Darah Hingga 50 Persen

Ekstrak Bawang Bombay Mampu Turunkan Gula Darah Hingga 50 Persen
Foto: Ilustrasi Ekstrak Bawang Bombay Mampu Turunkan Gula Darah Hingga 50 Persen.

Ekstrak umbi bawang bombay atau Allium cepa ditemukan mampu mengurangi kadar gula darah tinggi secara signifikan hingga 50 persen pada subjek tikus diabetes. Temuan ini dipresentasikan dalam sebuah penelitian di San Diego dan dilansir dari Detik Health pada Rabu (13/5/2026).

Uji coba tersebut melibatkan pemberian metformin bersama berbagai dosis ekstrak bawang bombay, yakni 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan. Penurunan kadar gula darah puasa paling tajam terlihat pada dosis 400 mg sebesar 50 persen dan dosis 600 mg sebesar 35 persen.

Peneliti utama Anthony Ojieh dari Delta State University, Nigeria, menjelaskan keunggulan bahan alami ini dalam pengobatan diabetes. Ia menekankan bahwa tanaman ini memiliki aksesibilitas yang luas bagi masyarakat umum.

"Bawang bombay murah dan mudah didapat serta telah dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi," kata Anthony Ojieh, MBBS (MD), MSc, dari Delta State University di Abraka, Nigeria.

Ojieh juga memberikan penegasan mengenai potensi besar dari penggunaan ekstrak tanaman tersebut dalam lingkup medis di masa depan.

"Bawang bombay berpotensi digunakan untuk mengobati pasien diabetes," terangnya.

Meskipun kadar gula darah menurun, peneliti mencatat adanya peningkatan berat badan rata-rata pada tikus non-diabetes. Ojieh memberikan penjelasan mengenai mekanisme di balik kenaikan berat badan tersebut yang berkaitan dengan metabolisme tubuh.

"Bawang bombay tidak tinggi kalori," kata Ojieh.

Ia kemudian menambahkan informasi mengenai efek samping nafsu makan yang timbul akibat peningkatan aktivitas metabolik pasca konsumsi ekstrak.

"Namun, tampaknya hal itu meningkatkan laju metabolisme dan, dengan demikian, meningkatkan nafsu makan, yang menyebabkan peningkatan konsumsi makanan," tambahnya.

Sementara itu, spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi memberikan anjuran mengenai durasi aktivitas fisik yang ideal untuk menjaga kesehatan. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam berolahraga setiap harinya.

"Kalau bisa paling tidak 150 menit sehari. Dan ini ada catatannya, kalau memungkinkan jangan ada jeda 2 hari berturut-turut, misalnya hari ini olahraga, hari ini olahraga, besok istirahat bentar, boleh deh, tapi kalau bisa usahakan besok olahraga lagi. Seperti itu, dan jangan lupa untuk re-evaluasi berkala, karena kalau sekali doang ya percuma," kata dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD.

Dalam forum yang diselenggarakan pada Jumat (31/10/2025), dr Erpryta juga mengingatkan pentingnya prosedur laboratorium untuk mendiagnosis kondisi metabolisme tubuh secara akurat.

"Kalau masalah gula harus cek lab, tentu saja. Tidak hanya gula sewaktu, jadi harus diagnosis untuk diabetes melitus itu, paling tidak ada gula darah puasa, atau namanya HbA1c, ya itu adalah rata kadar gula darah 2-3 bulan terakhir, dimana kita jadi tahu, 'oh saya ini aman nggak sih?' Atau saya masuk ke prediabetes, atau saya sudah diabetes, seperti itu," kata dr Erpryta.

Artikel terkait

Rekomendasi