PT Pupuk Indonesia (Persero) melalui anak usahanya, PT Pupuk Kalimantan Timur, melakukan ekspor perdana produk urea ke Australia dalam skema Government-to-Government (G2G) pada Kamis (14/5/2026). Pelepasan kapal pengangkut tersebut dilaksanakan di Dermaga BSL Pupuk Kaltim, Bontang, guna memperkuat rantai pasok pangan di kawasan Asia-Pasifik.
Volume pengiriman tahap awal ini mencapai 47.250 ton urea sebagaimana dilansir dari Industri. Kerja sama bilateral tersebut menargetkan total komitmen sebesar 250.000 ton yang direncanakan akan terus ditingkatkan hingga mencapai 500.000 ton dengan proyeksi nilai total mencapai Rp 7 triliun.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai langkah ini sebagai tonggak sejarah bagi transformasi industri pupuk nasional. Pengiriman urea tersebut menjadi wujud nyata kolaborasi antara pemerintah Indonesia dan Australia dalam menjaga stabilitas pangan di kawasan regional.
"Ini mencetak sejarah, karena (kita) akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia. Rencana mengekspor ke Australia sesuai dengan pembicaraan Perdana menteri Australia dan Bapak Presiden yaitu 250.000 ton, tapi akan ditingkatkan menjadi 500.000 ton, nilainya kurang lebih Rp 7 triliun," kata Amran, Menteri Pertanian.
Pemerintah Australia memberikan apresiasi tinggi terhadap terealisasinya pengiriman perdana ini. Kerja sama tersebut dipandang sebagai refleksi dari kemitraan strategis yang telah terjalin lama antara kedua negara tetangga tersebut.
"Australia sangat menghargai hubungan dengan Indonesia dan kerja sama ini mencerminkan persahabatan serta kemitraan yang kuat antara Australia dan Indonesia," kata Gita Kamath, Deputy Ambassador Australia untuk Indonesia.
Aktivitas ekspor ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi antara Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada 21 April 2026. Meski merambah pasar internasional, pemerintah memastikan kebijakan ekspor dijalankan secara terukur agar kebutuhan pupuk petani dalam negeri tetap terpenuhi.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menjelaskan bahwa momentum ini menegaskan posisi strategis Indonesia dalam memberikan solusi bagi tekanan rantai pasok global. Menurutnya, ekspor ini memiliki dimensi diplomatik yang melampaui sekadar transaksi ekonomi.
"Pengiriman urea ke Australia hari ini bukan sekadar aktivitas perdagangan, tetapi juga bagian dari diplomasi pangan Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia-Pasifik," kata Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Indonesia.
Tahun ini, Pupuk Indonesia memproyeksikan produksi urea nasional mencapai 7,8 juta ton dengan estimasi kebutuhan domestik sebesar 6,3 juta ton. Surplus produksi sebesar 1,5 juta ton tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi pasar ke luar negeri tanpa mengganggu stok nasional.
"Pupuk Indonesia tetap mampu menjaga kebutuhan domestik sekaligus mempertahankan fleksibilitas ekspor secara terukur dan bertanggung jawab," tegas Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Indonesia.
Hingga 13 Mei 2026, ketersediaan stok pupuk nasional dilaporkan berada di angka 1,1 juta ton. Kekuatan stok ini didukung oleh kapasitas produksi harian yang mencapai 25.000 ton urea serta 15.000 ton pupuk NPK untuk menjamin kelancaran distribusi.
"Saat ini stok pupuk mencapai 1,1 juta ton yang menunjukkan ketahanan pasokan nasional. Jumlah ini akan terus dijaga seiring produksi Pupuk Indonesia yang berjalan optimal dengan kapasitas produksi harian mencapai 25.000 ton urea dan 15.000 ton pupuk NPK," ujar Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Indonesia.
Dalam mengelola distribusi, Pupuk Indonesia mengandalkan teknologi digital melalui Command Center dan sistem i-Pubers. Integrasi data secara real-time ini memudahkan perusahaan memantau pergerakan stok hingga ke tingkat kios dan melakukan realokasi pasokan secara cepat jika terjadi lonjakan permintaan.
"Lewat Command Center dan sistem i-Pubers, kami bisa memantau pergerakan stok pupuk secara real-time hingga tingkat kios. Dengan sistem ini, penyesuaian distribusi dapat dilakukan lebih cepat ketika terdapat wilayah dengan kebutuhan pupuk yang meningkat," tandas Rahmad Pribadi, Direktur Utama Pupuk Indonesia.