Kinerja ekspor nonmigas Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,98 persen menjadi US$63,60 miliar sepanjang periode Januari hingga Maret 2026. Capaian ini muncul di tengah kondisi sektor migas yang sedang mengalami tekanan cukup signifikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari Ekonomi, total nilai ekspor nasional pada kuartal pertama tahun ini mencapai US$66,85 miliar. Angka tersebut menunjukkan kenaikan tipis dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar US$66,62 miliar.
Struktur pengiriman barang ke luar negeri pada awal tahun ini masih sangat bergantung pada komoditas yang berbasis sumber daya alam. Kelompok lemak dan minyak hewan atau nabati, batu bara, serta besi dan baja menjadi tiga pilar utama penopang ekspor.
Gabungan dari ketiga komoditas tersebut menyumbang nilai sebesar US$22,68 miliar. Kontribusi ini setara dengan 35,66 persen dari keseluruhan total ekspor nonmigas Indonesia selama tiga bulan pertama tahun 2026.
Jika ditinjau secara lebih spesifik, batu bara jenis tertentu (HS 27011900) mencatatkan nilai pengiriman tertinggi sebesar US$4,18 miliar. Posisi berikutnya ditempati oleh ferro-nickel senilai US$3,73 miliar dan produk turunan kelapa sawit atau refined palm oil sebesar US$2,84 miliar.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Perdagangan, Ni Made Kusuma Dewi, melihat fenomena ini sebagai indikasi bahwa kebijakan hilirisasi mulai menunjukkan hasil nyata. Peningkatan nilai tambah pada produk manufaktur disebut mulai terlihat di pasar internasional.
ÔÇ£Kinerja ekspor pada komoditas tersebut mencerminkan adanya keberhasilan kebijakan hilirisasi yang mulai mendorong peningkatan nilai tambah komoditas Indonesia di pasar global,ÔÇØ ujarnya.
Meskipun ada tren positif, dominasi produk berbasis sumber daya alam memberikan sinyal bahwa transformasi struktur ekspor Indonesia masih dalam tahap proses. Pergeseran menuju produk manufaktur dengan teknologi tinggi dinilai belum terjadi secara menyeluruh.
Kontraksi Sektor Migas dan Kinerja Industri
Laju pertumbuhan ekspor secara keseluruhan tertahan oleh sektor migas yang mengalami kontraksi dalam sebesar 10,58 persen. Nilai ekspor migas merosot dari US$3,64 miliar pada tahun lalu menjadi US$3,25 miliar pada periode saat ini.
Sebaliknya, sektor industri pengolahan justru tampil sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Sektor ini mengalami kenaikan sebesar 3,96 persen dengan total nilai mencapai US$54,98 miliar selama kuartal I/2026.
Sektor industri pengolahan berhasil menjadi bantalan utama yang menjaga stabilitas kinerja perdagangan luar negeri Indonesia. Hal ini terjadi saat beberapa sektor komoditas primer lainnya justru menunjukkan performa yang cenderung melemah.