Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ketergantungan ekspor nonmigas Indonesia terhadap pasar China semakin menguat dengan perolehan pangsa 25,94 persen pada kuartal I/2026. Capaian ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 22,29 persen di tengah pelemahan pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Data BPS yang dilansir dari Ekonomi menunjukkan nilai ekspor ke Negeri Tirai Bambu tersebut menembus angka US$16,50 miliar sepanjang Januari hingga Maret 2026. Sektor besi dan baja menjadi motor utama dengan kontribusi senilai US$4,29 miliar atau setara 25,98 persen dari total pengiriman ke negara tersebut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa akumulasi nilai ekspor dari tiga negara mitra utama tetap mendominasi struktur perdagangan internasional Indonesia.
"Tiga besar negara dengan tujuan ekspor, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Nilai ekspor ketiga negara ini memberikan kontribusi sebesar 44,48% dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Maret 2026," ujar Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS.
Komoditas nikel dan barang turunannya mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 69,01 persen dengan nilai US$2,80 miliar. Namun, pengiriman bahan bakar mineral ke China justru terkontraksi 10,97 persen yang mengindikasikan penurunan permintaan energi di pasar tersebut.
Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat tercatat sebesar US$7,29 miliar dengan pangsa pasar 11,46 persen. Beberapa produk unggulan ke Negeri Paman Sam meliputi mesin dan perlengkapan elektrik senilai US$1,20 miliar, serta produk alas kaki dan pakaian masing-masing sebesar US$682,71 juta dan US$600,63 juta.
Penurunan tren terlihat pada komoditas utama di pasar AS, di mana mesin elektrik turun 1,37 persen dan pakaian terkoreksi 4,55 persen. Di sisi lain, ekspor ke India mencapai US$4,50 miliar dengan lonjakan tajam pada produk mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 261,96 persen.
Secara regional, kawasan Asean menyumbang 20,31 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional, sedangkan Uni Eropa berkontribusi sebesar 6,73 persen. Kelompok negara lainnya tetap memegang peranan penting dengan total pangsa mencapai 28,48 persen.