Kinerja ekspor Indonesia sepanjang periode Januari hingga Maret 2026 mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 0,34 persen. Capaian ini terjadi di tengah tekanan penurunan tajam pada sektor migas serta kontraksi di sejumlah komoditas primer.
Dilansir dari Ekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis total nilai ekspor pada tiga bulan pertama tahun ini menyentuh angka US$66,85 miliar. Nilai tersebut mengalami peningkatan dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar US$66,62 miliar.
Pertumbuhan ekspor nasional pada kuartal pertama tahun ini secara dominan didorong oleh kinerja sektor nonmigas. Kelompok ini mencatatkan kenaikan sebesar 0,98 persen dengan total nilai mencapai US$63,60 miliar.
Di sisi lain, ekspor migas justru mengalami tekanan hebat dengan kontraksi mendalam mencapai 10,58 persen. Nilainya merosot dari angka US$3,64 miliar pada tahun lalu menjadi hanya sebesar US$3,25 miliar pada periode ini.
Penurunan signifikan pada sektor migas tersebut menjadi faktor penghambat utama yang menahan laju pertumbuhan ekspor Indonesia secara menyeluruh. Sementara itu, dari aspek sektoral, industri pengolahan muncul sebagai penggerak utama.
Sektor industri pengolahan berhasil tumbuh sebesar 3,96 persen dengan nilai ekspor mencapai US$54,98 miliar. Kontribusi besar dari sektor manufaktur ini menjadi penyangga utama di saat sektor-sektor lainnya mengalami pelemahan kinerja.
Kondisi berbeda terlihat pada sektor yang mengandalkan sumber daya alam. Ekspor di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami kejatuhan hingga 32,18 persen, sehingga nilainya hanya tersisa sebesar US$1,14 miliar.
Sektor pertambangan dan industri terkait lainnya juga tidak luput dari tren penurunan. Kelompok sektor ini mencatatkan kontraksi sebesar 11,17 persen dengan nilai total ekspor sebesar US$7,47 miliar.
Terkait negara tujuan, China masih menjadi pasar utama yang mengalami peningkatan signifikan. Nilai pengiriman barang ke Negeri Tirai Bambu tersebut melonjak dari US$14,04 miliar menjadi US$16,50 miliar.
Tren positif juga terlihat pada aktivitas perdagangan ke wilayah Asean yang mencapai angka US$12,92 miliar. Selain itu, ekspor menuju pasar India tercatat mengalami kenaikan hingga menyentuh US$4,50 miliar.
Namun, kinerja ekspor ke Uni Eropa justru menunjukkan tren negatif dengan penurunan nilai dari US$4,53 miliar menjadi US$4,28 miliar. Ekspor ke kelompok negara lainnya juga terkoreksi tajam dari US$20,05 miliar ke angka US$18,11 miliar.
Sementara itu, permintaan dari pasar Amerika Serikat terpantau masih stagnan di kisaran US$7,29 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa permintaan dari salah satu pasar utama dunia tersebut masih belum sepenuhnya pulih.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono memberikan penjelasan mengenai pendorong utama pertumbuhan tersebut. Beliau menyebutkan bahwa sektor industri pengolahan memiliki andil besar dalam kenaikan kumulatif ini.
"Peningkatan ekspor secara kumulatif didorong oleh sektor industri pengolahan dengan andil sebesar 3,15%," kata Ateng Hartono.
Fenomena ini menunjukkan bahwa struktur perdagangan internasional Indonesia kini semakin bergantung pada kekuatan industri pengolahan. Hal ini terjadi saat komoditas primer yang selama ini menjadi andalan justru terus melemah kinerjanya.