Sektor pariwisata nasional mencatatkan perputaran ekonomi sebesar Rp165,7 triliun selama periode Lebaran 2026, sebuah lonjakan tajam dari angka Rp137 triliun pada tahun sebelumnya. Data yang dilansir dari Investortrust menunjukkan volume wisatawan meningkat dua kali lipat menjadi 17,27 juta orang pada Rabu (1/4/2026).
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati mengungkapkan bahwa proporsi masyarakat yang memilih berwisata di tengah momentum mudik mengalami pertumbuhan signifikan. Kenaikan partisipasi wisata ini mencapai 12 persen dari total populasi, melonjak dari posisi 6,3 persen pada tahun 2025.
"Pada tahun 2025, sekitar 6,3 persen masyarakat melakukan perjalanan ke lokasi wisata. Tahun 2026 ini angka tersebut meningkat dua kali lipat menjadi 12 persen atau setara dengan 17,27 juta orang," jelas Ni Luh dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Meskipun volume wisatawan meningkat drastis, rata-rata pengeluaran individu tercatat menurun menjadi Rp1,1 juta dari sebelumnya Rp1,2 juta. Selain itu, belanja per keluarga juga mengalami koreksi menjadi Rp3,7 juta dibandingkan angka Rp4,9 juta pada tahun lalu akibat penyesuaian daya beli.
"Hal ini menunjukkan adanya pergeseran dari konsumsi berbasis rumah tangga menjadi konsumsi berbasis pengalaman (experience-based consumption), khususnya pada sektor pariwisata," tambah Ni Luh.
Pemerintah berupaya mempertahankan tren positif ini untuk memastikan dampak pengganda ekonomi tetap mengalir ke para pelaku usaha di berbagai daerah. Sebanyak 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan tiga destinasi regeneratif dilaporkan menjadi penggerak utama dengan total pengeluaran wisatawan menembus Rp12,27 triliun.
"Angka ini mencerminkan kontribusi signifikan, yakni sekitar 61,8 persen dari total estimasi pengeluaran nasional di sektor pariwisata," kata Ni Luh.
Sejumlah destinasi populer seperti Borobudur, Yogyakarta, Prambanan, Bromo Tengger Semeru, dan Danau Toba memberikan kontribusi terbesar dalam sebaran ekonomi tersebut. Distribusi belanja wisatawan ini membuktikan bahwa manfaat ekonomi libur Lebaran kini tersebar lebih luas ke wilayah-wilayah di luar pusat kota melalui aktivitas pariwisata.