Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen Pecahkan Sembilan Rekor Baru

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen Pecahkan Sembilan Rekor Baru
Foto: Ilustrasi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen Pecahkan Sembilan Rekor Baru.

Ekonomi Indonesia mencetak pertumbuhan mengesankan sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026. Capaian ini mematahkan stagnasi pertumbuhan di kisaran 5 persen yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencatatkan performa impresif pada tiga bulan pertama tahun ini. Berdasarkan data yang dihimpun Datatrust, dilansir dari Investortrust, pertumbuhan ini sukses memecahkan sembilan rekor baru sekaligus.

Pencapaian 5,61 persen ini menjadi pertumbuhan tertinggi sejak kuartal III-2022 yang saat itu mencapai 5,72 persen. Setelah tiga tahun melambat, ekonomi nasional kembali mendekati level pra-perlambatan global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengaku terkejut dengan pencapaian di luar ekspektasi tersebut.

"Di tengah dinamika global yang masih mencari keseimbangan baru, ekonomi Indonesia tumbuh baik di luar ekspektasi berbagai lembaga," ujar Airlangga.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini juga berhasil melampaui kinerja sejumlah negara besar seperti China, Korea Selatan, Arab Saudi, hingga Amerika Serikat.

Performa ini sekaligus menjadi capaian kuartal pertama terbaik sejak tahun 2012. Saat itu, pada kuartal I-2012, ekonomi nasional mampu tumbuh hingga 6,11 persen.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indonesia kini mulai terlepas dari tren pertumbuhan yang stagnan.

"Di tengah gejolak global yang tidak menentu, kita masih bisa tumbuh sesuai target, bahkan lebih cepat dibanding periode tahun lalu. Jadi jelas, kita sudah bisa terlepas dari kutukan pertumbuhan 5%," kata Purbaya.

Motor utama lonjakan ini berasal dari konsumsi pemerintah yang melonjak hingga 21,81 persen. Berdasarkan distribusi pengeluaran terhadap PDB, sektor ini tumbuh 6,06 persen dan menjadi yang tertinggi sejak 2010.

Akselerasi dipicu oleh percepatan belanja kementerian/lembaga, pencairan awal gaji ke-14 ASN, serta pelaksanaan masif program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Realisasi belanja pemerintah pada kuartal pertama ini menyentuh angka Rp 815 triliun.

"Ini semakin menegaskan bahwa momentum Ramadan dan Idulfitri serta mobilitas masyarakat meningkat sangat tinggi," tegas Airlangga Hartarto.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti turut membenarkan peran besar stimulus fiskal negara tersebut.

"Akselerasi itu terutama didorong pembayaran gaji ke-14, belanja barang dan jasa, serta berbagai program yang langsung menyentuh Masyarakat," kata Amalia.

Sektor investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) ikut merangkak naik dengan pertumbuhan 5,96 persen, tertinggi sejak kuartal I-2021.

BPS mencatat pendorong investasi ini meliputi Proyek Strategis Nasional seperti MRT, infrastruktur konektivitas, Koperasi Desa Merah Putih, hingga pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sektor SPPG mengalami ekspansi masif dengan penambahan 6.737 unit baru sejak Desember 2025 hingga Maret 2026. Ekosistem MBG kini mengoperasikan 26.066 dapur, memproduksi 60 porsi per hari, dan menyerap 1,3 juta pekerja.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menyoroti dampak berantai dari program tersebut bagi daerah.

"Ini mencerminkan multiplier effect yang sangat kuat terhadap perekonomian domestik," tegas Anindya.

Nilai nominal PDB atas dasar harga berlaku juga menembus rekor tertinggi sejarah dengan capaian Rp 6.187,2 triliun. Sementara berdasarkan harga konstan, nilai PDB menyentuh Rp 3.447,7 triliun.

Perekonomian menunjukkan konsistensi setelah pada kuartal IV-2025 tumbuh 5,02 persen, lalu melesat pada kuartal I-2026. Tren dua kuartal di atas 5 persen ini memperkecil risiko perlambatan.

"Boro-boro resesi, apalagi krisis, malah naik," tandas Purbaya.

Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai juara pertumbuhan di antara negara anggota G20 yang telah merilis data ekonominya.

Sebagai perbandingan, ekonomi China tumbuh 5 persen, Korea Selatan 3,6 persen, Arab Saudi 2,8 persen, dan Amerika Serikat 2,7 persen.

"In a world where growth has become a rare sentence, Indonesia is still writing it, consistently," kata Anindya Bakrie.

Dari sisi produksi, sektor industri pengolahan atau manufaktur tetap menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan 5,04 persen dan porsi 19,07 persen terhadap PDB.

Subsektor makanan-minuman tumbuh 7,04 persen, elektronik 10,35 persen, serta industri kimia dan farmasi tumbuh 7,41 persen.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan permintaan domestik dan luar negeri menjaga kinerja manufaktur tetap solid.

"Manufaktur tetap menjadi motor utama ekonomi nasional. Kinerja industri manufaktur tetap solid karena adanya permintaan yang meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri," ujar Agus.

Faktor penopang lain adalah kombinasi ekspansi fiskal dan pelonggaran likuiditas melalui penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 300 triliun di bank-bank Himbara.

"Ini namanya invisible hand. Saya memaksa invisible hand berjalan di sistem finansial kita," tutur Purbaya.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh 13,57 persen secara tahunan per Maret 2026, sedangkan penyaluran kredit tumbuh 9,5 persen.

Meski mencetak rapor hijau, sejumlah risiko eksternal dan domestik masih mengintai ketahanan ekonomi pada kuartal-kuartal berikutnya.

Tantangan tersebut meliputi konflik geopolitik global antara AS-Israel dan Iran yang memicu lonjakan harga energi, fluktuasi nilai tukar rupiah, pemulihan daya beli yang belum merata, serta penurunan performa ekspor.

Artikel terkait

Rekomendasi