Ekonomi Indonesia mencatatkan akselerasi pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal I 2026 yang dipicu oleh tingginya aktivitas domestik. Capaian ini dilansir dari Suara pada Kamis (7/5/2026) menunjukkan peningkatan dibandingkan periode triwulan sebelumnya yang berada di angka 5,39 persen.
Penguatan performa ekonomi nasional ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen serta lonjakan signifikan pada konsumsi pemerintah. Faktor utama penggerak aktivitas ekonomi tersebut meliputi mobilitas masyarakat selama Idulfitri 1447 H dan implementasi berbagai stimulus fiskal.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny, memberikan rincian mengenai faktor pendorong utama dari sisi domestik tersebut.
"Kuatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun ini didorong oleh solidnya aktivitas domestik, di mana konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,52 persen (yoy)," katanya Ramdan Denny, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI).
Pemerintah mencatatkan kenaikan belanja pegawai yang drastis melalui pembayaran Tunjangan Hari Raya serta realisasi program Makan Bergizi Gratis yang mempercepat penyerapan anggaran.
"Kenaikan ini didorong oleh realisasi belanja pegawai melalui pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) atau gaji ke-14, serta akselerasi belanja program prioritas, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG)," katanya Ramdan Denny, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI).
Investasi dalam bentuk Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) turut menguat sebesar 5,96 persen dengan dominasi permintaan pada sektor mesin dan kendaraan. Sementara itu, sektor akomodasi dan transportasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi akibat masifnya pergerakan wisatawan domestik dan mancanegara.
Secara kewilayahan, Bali dan Nusa Tenggara menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, diikuti oleh wilayah Sulawesi, Jawa, Sumatera, hingga Papua. Bank Indonesia memproyeksikan tren positif ini akan berlanjut dengan target pertumbuhan tahunan di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.
"BI berkomitmen terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan system pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan Pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi nasional," tandas Ramdan Denny, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI).