Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk periode triwulan pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan tersebut, ekonomi nasional tercatat tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Capaian ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka 4,87 persen. Angka pertumbuhan ini juga dilaporkan melampaui ekspektasi dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional.
Dilansir dari Suara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan tanggapan positif terhadap hasil perhitungan BPS tersebut. Ia menyebutkan bahwa performa ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat baik di tingkat global.
Airlangga Hartarto memberikan penekanan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara anggota G20 lainnya. Posisi Indonesia diklaim lebih unggul jika dibandingkan dengan kekuatan ekonomi besar seperti Amerika Serikat hingga China.
"Nah, pertumbuhan kita yang 5,61 persen ini adalah tumbuh di atas beberapa negara G20. Memang dari G20 ini yang belum keluar (data pertumbuhan ekonomi) India. Tetapi di antara negara yang keluar termasuk China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, Amerika Serikat, kita yang tertinggi," kata Airlangga.
Menurutnya, tren positif ini merupakan representasi dari efektivitas berbagai kebijakan yang telah diimplementasikan oleh pemerintah. Dampak dari momentum musiman juga dinilai memberikan kontribusi besar terhadap akselerasi ekonomi di awal tahun ini.
Pendorong Utama Pertumbuhan
Sektor konsumsi rumah tangga masih memegang peran vital sebagai motor penggerak utama ekonomi nasional. Pada triwulan ini, konsumsi rumah tangga tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 5,52 persen.
Airlangga menjelaskan bahwa tingginya angka tersebut sangat dipengaruhi oleh periode Ramadan dan Idulfitri 2026. Adanya pelonggaran mobilitas masyarakat selama masa libur panjang turut memicu peningkatan aktivitas ekonomi secara luas.
"Dan ini semakin menegaskan bahwa momentum daripada Ramadan dan Idulfitri serta pelepasan mobilitas itu meningkat dengan tinggi," ujar Airlangga.
Selain konsumsi masyarakat, belanja pemerintah juga mengalami lonjakan yang cukup tajam. Pada kuartal pertama 2026, belanja pemerintah tumbuh 21,81 persen dengan total nilai mencapai Rp815 triliun.
Angka belanja pemerintah ini tercatat lebih tinggi daripada kuartal sebelumnya. Airlangga menyebutkan bahwa realisasi tersebut melampaui rata-rata historis dan didorong oleh percepatan berbagai program belanja di tingkat Kementerian serta Lembaga.
Detail Produk Domestik Bruto
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, memaparkan rincian mengenai besaran Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Berdasarkan harga berlaku, PDB Indonesia menyentuh angka Rp6.187,2 triliun, sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp3.447,7 triliun.
ÔÇ£Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan satu 2026 atas dasar harga berlaku sebesar 6.187,2 triliun rupiah, atas dasar harga konstan 3.447,7 triliun rupiah, sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan satu 2026 bila dibandingkan triwulan satu 2025 atau secara year on year tumbuh 5,61 persen,ÔÇØ jelas Amalia.
Meskipun menunjukkan pertumbuhan kuat secara tahunan, BPS mencatat adanya kontraksi sebesar 0,77 persen jika dibandingkan dengan triwulan IV 2025 atau secara kuartalan (quarter-to-quarter).
"Secara triwulanan, ekonomi Indonesia triwulan satu 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen,ÔÇØ tutur Amalia.
Penurunan secara kuartalan tersebut dijelaskan sebagai fenomena yang lumrah terjadi karena pola musiman. Secara keseluruhan, BPS menilai kinerja ekonomi tahunan tetap menunjukkan tren penguatan yang lebih solid daripada pencapaian pada tahun lalu.