Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,5 Persen pada Kuartal I-2026

Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,5 Persen pada Kuartal I-2026
Foto: Ilustrasi Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,5 Persen pada Kuartal I-2026.

Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mampu mencapai level 5,5 persen di tengah tantangan geopolitik global. Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan angka resmi realisasi Produk Domestik Bruto (PDB) tersebut pada hari ini, Selasa (5/5/2026), dilansir dari Money.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan optimisme bahwa capaian awal tahun ini akan melampaui target tahunan dalam APBN sebesar 5,4 persen. Angka pertumbuhan ini dianggap krusial untuk mengukur daya tahan ekonomi nasional terhadap fluktuasi harga komoditas dan dinamika di Timur Tengah.

"Untuk kuartal pertama kita optimistis lebih besar atau sama dengan 5,5 persen. Kemudian kalau di akhir tahun lebih besar sama dengan 5,4 persen sesuai dengan perkiraan APBN," ujar Airlangga.

Senada dengan pemerintah, BRI Danareksa Sekuritas memprediksi PDB Indonesia akan tumbuh di angka 5,36 persen secara tahunan (yoy). Kekuatan konsumsi rumah tangga selama periode Januari hingga Maret 2026 menjadi fondasi utama stabilnya aktivitas ekonomi domestik.

"Kami mencatat bahwa potensi angka PDB yang baik dapat memberikan sedikit kelegaan. Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia sekitar 5,36 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun 2026," tulis riset tersebut.

Lembaga riset tersebut juga menyoroti bahwa indeks penjualan ritel dan sentimen konsumen yang positif hingga Februari menjadi indikator kuat terjaganya daya beli masyarakat.

"Terutama hingga Februari, seperti yang tecermin dalam aktivitas ritel yang stabil dan sentimen konsumen yang sehat. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli terus mendukung aktivitas ekonomi secara keseluruhan," tulis riset tersebut.

Ekonom Kisi Asset Management Arfian Prasetya Aji menilai ada dua faktor utama penopang pertumbuhan, yakni percepatan belanja pemerintah sebesar Rp809 triliun dan pemulihan sektor keuangan. Kredit investasi dan modal kerja menunjukkan tren penguatan signifikan di awal tahun.

"Terdapat dua faktor utama yang dapat menjadi penopang," ungkap Arfian.

Arfian menambahkan bahwa belanja pemerintah tumbuh 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara pertumbuhan kredit mencapai 9,96 persen pada Januari 2026.

"Dengan total anggaran mencapai Rp 809 triliun di kuartal pertama, jumlah yang tumbuh signifikan sebesar 30 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu," imbuh Arfian.

Pelonggaran kebijakan moneter yang telah dilakukan sebelumnya dinilai efektif menurunkan suku bunga kredit hingga ke level 8,8 persen.

"Selanjutnya Arfian bilang, faktor kedua adalah dengan melihat performa sektor keuangan menunjukkan pemulihan kuat melalui pertumbuhan kredit yang mencapai 9,96 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada Januari 2026."

Sektor konsumsi juga mendapat suntikan dari penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN dan pegawai swasta menjelang Lebaran 2026. Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan perputaran dana dari THR dan bantuan bagi pengemudi ojek daring mencapai Rp179,22 triliun.

"Kami memperkirakan multiplier effect dari penyaluran THR dan BHR akan meningkatkan 0,3 hingga 0,8 poin persentase (ppt) terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026," kata Banjaran.

Meskipun ada sentimen positif dari momen musiman seperti Imlek dan Ramadhan, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira mengingatkan adanya risiko inflasi. Ia memproyeksikan pertumbuhan berada di kisaran 4,9 hingga 5 persen karena kenaikan harga pangan.

"Karena ada momen seasonal Ramadhan, Lebaran, and Imlek," ungkap Bhima.

Bhima menekankan bahwa efektivitas THR dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kemungkinan akan terhambat oleh inflasi pangan bergejolak yang mencapai 4 persen pada Februari 2026.

"Artinya kenaikan THR tetap tergerus oleh inflasi yang relatif lebih tinggi dari momentum Lebaran sebelumnya," tutup Bhima.

Artikel terkait

Rekomendasi