PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memposisikan energi panas bumi sebagai pilar utama dalam memperkuat ketahanan serta kemandirian energi nasional. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya transisi menuju energi rendah emisi di Indonesia.
Sebagai sumber energi baru terbarukan, panas bumi memiliki keunggulan berupa stabilitas produksi listrik selama 24 jam penuh. Keunggulan ini membuat panas bumi tidak bergantung pada fluktuasi cuaca maupun kebutuhan impor bahan bakar fosil.
Karakteristik tersebut menjadikan panas bumi sebagai andalan dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) Indonesia. Dilansir dari Suara, panas bumi juga berperan vital dalam memperkuat bauran energi bersih di tingkat nasional.
"Sebagai energi baru terbarukan, panas bumi merupakan energi baseload andal yang mampu menghasilkan listrik stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca maupun impor bahan bakar. Karakteristik ini menjadikan panas bumi berperan penting dalam mendukung transisi energi rendah emisi sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional," demikian keterangan PGE pada Rabu (14/5/2026).
Guna memperkuat peran strategis tersebut, PGE secara konsisten menerapkan inisiatif efisiensi energi di seluruh lini bisnis. Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menyebutkan bahwa praktik keberlanjutan adalah kunci pengembangan panas bumi yang andal.
"Pengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih. PGE juga memastikan seluruh operasional dijalankan secara bertanggung jawab, efisien, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar. Karena itu, penguatan praktik ESG dan implementasi operasi berkelanjutan akan terus menjadi prioritas Perseroan ke depan," kata Andi Joko Nugroho.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, perusahaan berhasil membukukan penghematan energi mencapai 90.502,28 MWh sepanjang tahun lalu. Angka ini menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 40.058,77 MWh.
Peningkatan efisiensi ini didorong oleh optimalisasi teknis di berbagai wilayah kerja. Beberapa langkah kunci meliputi debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu hingga perbaikan operasional vacuum pump pada sistem pembangkit listrik.
Penurunan Intensitas Emisi Karbon
Pada periode yang sama, PGE berhasil menekan rasio intensitas energi menjadi 0,037 MWh/MWh. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 10,10 persen jika dibandingkan dengan data tahun sebelumnya.
Pemanfaatan energi terbarukan dalam aktivitas internal perusahaan juga tetap berada di level tinggi, yakni mencapai 94,36 persen. Di sisi lain, pengelolaan emisi operasional PGE tetap berada dalam koridor standar internasional yang ketat.
Intensitas emisi perusahaan tercatat sebesar 41,12 g CO2e/kWh pada tahun 2025. Nilai ini berada jauh di bawah ambang batas EU Taxonomy dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia yang menetapkan batas maksimal 100 g CO2e/kWh.
Secara total, operasional panas bumi yang dikelola PGE diklaim telah berkontribusi mencegah pelepasan emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e selama setahun terakhir. Perusahaan kini juga merambah pengembangan green hydrogen dan pusat data hijau berbasis panas bumi.
Saat ini, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW. Kapasitas ini menyumbang sekitar 70 persen dari keseluruhan total kapasitas terpasang panas bumi yang ada di Indonesia.