Easycash Edukasi Mahasiswa UNESA Terkait Risiko Finansial Digital

Easycash Edukasi Mahasiswa UNESA Terkait Risiko Finansial Digital
Foto: Ilustrasi Easycash Edukasi Mahasiswa UNESA Terkait Risiko Finansial Digital.

PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) menyelenggarakan edukasi literasi keuangan bagi mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) pada Rabu (29/4/2026) guna menekan angka kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan digital pada generasi muda.

Kesenjangan yang cukup signifikan tercatat dalam data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, sebagaimana dilansir dari Suara. Laporan tersebut menunjukkan indeks inklusi keuangan telah menyentuh angka 80,51 persen, namun tingkat literasi masyarakat baru berada di level 66,46 persen.

Kesenjangan lebih lebar ditemukan pada kelompok Gen Z usia 18ÔÇô25 tahun, di mana inklusi keuangan mencapai 89,96 persen namun literasinya hanya sebesar 73,22 persen. Kondisi tersebut menandakan banyak anak muda sudah menggunakan layanan keuangan digital tanpa memahami sepenuhnya risiko gagal bayar yang dapat merusak reputasi kredit.

Head of Corporate Affairs Easycash, Wildan Kesuma, menyatakan bahwa percepatan adopsi teknologi finansial saat ini belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai dari para pengguna.

"Kami melihat kecepatan adopsi layanan fintech belum sepenuhnya dibarengi dengan pemahaman yang mendalam. Di Surabaya, kami tidak hanya ingin memberikan akses, tetapi juga mendorong generasi muda untuk #JadiLebihPaham sehingga bijak dalam mengatur keuangan dengan sehat melalui pendekatan program edukasi keuangan yang lebih relevan," ujar Wildan Kesuma, Head of Corporate Affairs Easycash.

Wildan menilai Surabaya merupakan pusat ekonomi besar dengan populasi anak muda dinamis yang rentan terhadap risiko finansial. Sebagai langkah mitigasi, platform pinjaman daring yang berizin OJK ini memperkenalkan inisiatif Modul Bijak Keuangan (MOJANG) dan asisten berbasis AI bernama ChatPindar.

"Reputasi kredit adalah aset masa depan. Sekali seseorang mengalami gagal bayar (galbay) karena keputusan keuangan yang salah atau kurangnya pemahaman tentang aspek keuangan, maka rekam jejak tersebut akan tercatat dan berpotensi menghambat akses mereka ke layanan keuangan lainnya di masa depan," tambah Wildan Kesuma, Head of Corporate Affairs Easycash.

Director of General Financial Planning Program IARFC Indonesia, Mirzan Hasan, memberikan perspektif mengenai perilaku konsumtif mahasiswa. Ia menyoroti fenomena kenaikan gaya hidup atau lifestyle inflation yang dipicu oleh derasnya informasi di media sosial.

"Kami mengajarkan mahasiswa untuk mulai mencatat arus kas dan memahami bahwa penghasilan kita harus dikelola dengan baik, memilah antara kebutuhan dan keinginan, serta menggunakan pinjaman secara lebih produktif, bukan impulsif," jelas Mirzan Hasan, Director of General Financial Planning Program IARFC Indonesia.

Melalui kolaborasi antara industri fintech dan institusi pendidikan, diharapkan teknologi finansial dapat menjadi sarana pemberdayaan ekonomi. Program ini menargetkan peningkatan kemampuan manajemen arus kas serta kemampuan masyarakat dalam membedakan platform legal dan ilegal.

Artikel terkait

Rekomendasi