Gaya hidup work from anywhere atau WFA yang fleksibel kini tengah digemari oleh banyak pekerja digital. Namun, kebiasaan bekerja dari rumah maupun kafe ini menyimpan ancaman kesehatan tersembunyi berupa nyeri pinggang hingga saraf kejepit.
Durasi duduk yang mencapai 8 hingga 12 jam per hari menjadi pemicu utama keluhan pada area punggung serta pinggul. Gangguan muskuloskeletal ini, seperti dilansir dari Detik Health, tidak boleh disepelekan karena berpotensi merusak kualitas hidup.
Posisi tubuh yang membungkuk saat menggunakan laptop di sofa memberikan beban berlebih pada bantalan tulang belakang. Tekanan statis yang berlangsung secara terus-menerus membuat bantalan tersebut menonjol dan mengiritasi saraf di sekitarnya.
Otot penopang tulang belakang akan mengeras dan melemah jika tubuh tidak mendapatkan jeda peregangan secara berkala. Akibatnya, distribusi berat badan menjadi tidak seimbang dan membebani titik tertentu pada tubuh.
"Kondisi ini menyebabkan distribusi beban tubuh tidak merata, sehingga tulang belakang menerima tekanan berlebih di titik tertentu. Tekanan yang terjadi secara berulang dalam posisi statis dapat memicu gangguan saraf secara bertahap hingga akhirnya terjadi saraf kejepit," ujar dr Mahdian Nur Nasution, SpBS dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).
Risiko nyeri punggung bawah tercatat lebih tinggi pada individu yang menghabiskan waktu duduk di atas empat jam. Saraf kejepit sendiri merupakan penekanan saraf oleh jaringan sekitar seperti otot, tulang, atau bantalan tulang.
Gejala umumnya berkembang perlahan, mulai dari rasa pegal ringan hingga nyeri intens yang menjalar dari leher ke lengan atau punggung ke kaki. Penderita biasanya merasakan sensasi kesemutan, mati rasa, hingga penurunan kekuatan otot saat beraktivitas.
Pencegahan keparahan penyakit sangat bergantung pada deteksi dini dan konsultasi medis sebelum gejala mati rasa meluas. Saat ini, penanganan medis telah berkembang pesat dengan memanfaatkan teknologi minimal invasif tanpa bedah konvensional.
Salah satu metode modern yang kini tersedia di Indonesia adalah teknologi Joimax yang berasal dari Jerman. Penanganan modern ini dapat diakses masyarakat di Rumah Sakit Lamina melalui tindakan yang lebih aman dan nyaman bagi pasien.
Prosedur ini menggunakan alat endoskopi yang dilengkapi kamera mikro dan terhubung ke monitor beresolusi tinggi. Melalui visualisasi tersebut, dokter spesialis dapat membebaskan jepitan saraf secara presisi tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Metode Joimax hanya membutuhkan satu titik sayatan kecil dengan durasi tindakan berkisar antara 30 hingga 45 menit saja. Keunggulan lainnya meliputi risiko komplikasi yang minim serta masa pemulihan yang jauh lebih cepat bagi pasien.
Menjaga kesehatan tulang belakang melalui pengaturan posisi duduk dan peregangan berkala menjadi kunci utama selama WFA. Bagi penderita yang mengalami keluhan serupa, konsultasi dapat dilakukan dengan menghubungi Whatsapp Rumah Sakit Lamina di 0811-1443-599.