Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia mustahil mengalami kebangkrutan berkat dukungan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dalam acara Jogja Financial Festival di Yogyakarta pada Sabtu (23/5/2026), dilansir dari Suara.
Kondisi fundamental perekonomian nasional saat ini dinilai memiliki kekuatan komoditas unggulan yang kokoh. Sektor penopang utama tersebut mencakup kelapa sawit mentah (CPO), nikel, serta hasil perkebunan dan kelautan yang melimpah.
"Kalau ada yang mengatakan APBN kita bangkrut, tidak mungkin kita bangkrut," kata Misbakhun dalam sesi "1 on 1 Legislative" Jogja Financial Festival di Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).
Struktur ekonomi nasional masih terjaga dengan kontribusi besar dari berbagai komoditas ekspor. Indonesia saat ini memegang porsi signifikan untuk pasar global pada beberapa komoditas strategis.
"CPO 40 persen, nikel bahkan lebih 60 persen, kita masih menghasilkan karet, kopi, damar, ikan laut. Negara sekaya Indonesia tidak mungkin menjadi negara yang bangkrut," katanya.
Masyarakat diharapkan dapat melihat situasi ekonomi secara rasional. Lembaran informasi di media sosial yang menyebarkan sentimen negatif tentang kondisi ekonomi dinilai bersumber dari narasi para influencer.
"Kita berhadapan pada sebuah situasi antara realitas melawan media sosial. Jangan percaya begitu saja apa yang dilakukan influencer," katanya.
Koreksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh angka Rp17.800 diakui sebagai sebuah fenomena angka yang tinggi. Meski demikian, pergerakan nilai tukar saat ini dinilai berbeda secara fundamental dengan situasi krisis moneter tahun 1998.
"Kita harus yakinkan kepada masyarakat Indonesia bahwa nilai rupiah atas dolar AS Rp17.800 itu memang sebuah fenomena. Angka yang sangat tinggi untuk saat ini, namun ingat rupiah saat ini mungkin pernah menyamai krisis 1998," kata Misbakhun.
Titik awal pergerakan angka pelemahan rupiah pada tahun 1998 dinilai jauh berbeda dengan kondisi sekarang. Landasan perekonomian Indonesia saat ini dinilai lebih kuat.
"Rupiah Rp17.500, Rp17.800 saat krisis 1998 itu berangkat dari angka Rp2.400. Rupiah sekarang berada pada level Rp16.600, itu berangkat dari Rp16.000 sekian. Situasi struktur ekonomi kita sudah berbeda," katanya.
Pada masa krisis 1998, tekanan berat dipicu oleh banyaknya pinjaman valuta asing tanpa lindung nilai yang memadai. Saat ini, kondisi sektor keuangan dalam negeri terpantau masih sangat stabil.
"Sekarang rupiah Rp17.600, belum ada perbankan atau swasta yang mengalami kegagalan. Tantangan saat ini bukan hanya menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga membangun pemahaman publik agar tidak mudah terpengaruh sentimen yang berkembang di media sosial," katanya.
Persepsi publik mengenai stabilitas ekonomi nasional kini sangat dipengaruhi oleh paparan informasi digital. Hal tersebut menuntut masyarakat untuk lebih bijak memilah informasi.
"Sentimen kita itu ditentukan sekarang oleh media sosial. Cara pandang kita dipengaruhi oleh apa yang kita lihat di media sosial," katanya.