Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai penurunan nilai tukar rupiah terjadi akibat sikap para investor yang meragukan kondisi perekonomian domestik. Kondisi ini mendorong parlemen mendesak Bank Indonesia segera membenahi kebijakan penjagaan stabilitas mata uang.
Kritik tersebut disampaikan dalam rapat kerja di Gedung DPR pada Senin (18/5/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Berdasarkan data Bloomberg pada hari yang sama, mata uang Garuda berada di level Rp 17.669 per dolar Amerika Serikat (AS), melampaui asumsi APBN 2026 sebesar Rp 16.500.
ÔÇ£Harus jujur diakui, bahwa ada masalah serius di domestik yaitu fiskal, defisit transaksi berjalan, arus modal keluar dalam jumlah besar dan ada masalah di kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia,ÔÇØ ucap Anggota Komisi XI DPR, Harris Turino, dalam rapat kerja di Gedung DPR pada Senin (18/5/2026).
Harris menjelaskan bahwa tekanan saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998 karena struktur utang sekarang didominasi utang domestik. Depresiasi saat ini bergerak dari Rp 16.500 ke Rp 17.600, berbeda dengan lonjakan tahun 1998 dari Rp 2.500 ke Rp 16.500.
ÔÇ£Bagaimanapun juga ini adalah tanggung jawab BI untuk menjaga stabilitas mata uang rupiah,ÔÇØ tutur Harris.
Politisi tersebut menambahkan bahwa turbulensi rupiah didominasi oleh ekspektasi pasar. Dalam situasi ini, dana hedge fund yang keluar dari pasar modal akibat tekanan indeks MSCI dan kenaikan yield harusnya bergeser ke Surat Utang Negara (SUN), namun data menunjukkan hal itu tidak terjadi.
ÔÇ£Ketika hedge fund keluar dari pasar modal karena tekanan indeks seperti MSCI (Morgan Stanley Capital International) dan yield surat utang negara naik, seharusnya dana itu masuk ke SUN. Tetapi data menunjukkan tidak masuk ke surat utang negara. Artinya ada isu kepercayaan yang cukup besar,ÔÇØ ujar Harris.
Guna mengatasi pengetatan likuiditas tersebut, bank sentral diminta melakukan kajian mendalam untuk memetakan kebutuhan dolar AS secara akurat. Langkah ini dinilai krusial untuk mendeteksi titik meredanya tekanan capital outflow.
ÔÇ£Kalau punya data yang benar, berapa sih kebutuhan dolar dari hedge fund, dari pasar keuangan. Maka kita bisa tahu kalau kebutuhannya tinggal sedikit, artinya tekanan capital outflow sudah mulai mereda,ÔÇØ terang Harris.