Dana Pihak Ketiga (DPK) di industri perbankan nasional mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,39 persen secara tahunan atau year on year (yoy) hingga bulan April tahun 2026. Data yang dikutip dari Suara menunjukkan bahwa peningkatan ini mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan domestik.
Pertumbuhan tersebut juga diiringi oleh peningkatan jumlah rekening institusi keuangan. Hingga April 2026, total rekening penempatan dana mencapai 667.169.152 rekening, atau mengalami kenaikan sebesar 7,22 persen yoy dengan dominasi pada denominasi mata uang rupiah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa DPK valuta asing (valas) mengalami kenaikan sebesar 10,87 persen yoy. Secara rinci, komponen valas ini disumbang oleh pertumbuhan giro valas sebesar 3,15 persen yoy, tabungan valas sebesar 23,21 persen yoy, dan deposito valas yang melonjak 22,00 persen yoy.
"Peningkatan DPK valas masih tergolong wajar sehingga porsi DPK valas terhadap total DPK sampai saat ini relatif stabil dan bergerak pada kisaran 15 persen hingga 16 persen," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Kenaikan simpanan mata uang asing ini utamanya bertumpu pada produk deposito. OJK mengidentifikasi bahwa penawaran suku bunga deposito valas yang kompetitif dari sejumlah bank besar menjadi stimulus bagi para eksportir domestik untuk menyimpan dana mereka di dalam negeri.
Di sisi lain, DPK yang berdenominasi rupiah turut mengalami perluasan sebesar 11,49 persen yoy. Kinerja positif ini disokong oleh pertumbuhan giro rupiah sebesar 23,25 persen yoy, tabungan sebesar 7,88 persen yoy, serta instrumen deposito yang merangkak naik sebesar 6,91 persen yoy.
"Pertumbuhan DPK ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan nasional masih tetap tinggi," jelasnya.
Kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap solid dalam menghadapi dinamika ketidakpastian serta gejolak pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia saat ini berpotensi memicu volatilitas pasar dan memperkuat indeks dolar Amerika Serikat, yang berimbas pada fluktuasi nilai tukar di berbagai negara berkembang.
Meskipun dinamika global bergerak fluktuatif, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan ekonomi Indonesia masih kuat. Terbukti, inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi domestik yang positif turut menopang pertumbuhan DPK perbankan nasional yang tetap solid di tengah dinamika ekonomi global.