Dokter Jiwa Beri Saran Redam Stres Akibat Ketidakpastian Ekonomi

Dokter Jiwa Beri Saran Redam Stres Akibat Ketidakpastian Ekonomi
Foto: Ilustrasi Dokter Jiwa Beri Saran Redam Stres Akibat Ketidakpastian Ekonomi.

Kondisi finansial yang tidak menentu belakangan ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Lonjakan harga bahan pokok, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga ketidakjelasan masa depan menjadi sumber kecemasan yang nyata.

Situasi ini mendapat perhatian dari psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ. Dilansir dari Detik Health, ia membenarkan bahwa fluktuasi ekonomi dapat memberikan dampak langsung pada kondisi psikologis seseorang.

"Situasi ekonomi terasa tidak menentu memang dapat memicu masyarakat mengalami cemas, khawatir, bahkan frustrasi. Berita yang didengar tentang nilai tukar rupiah yang tidak menentu, harga kebutuhan pokok yang naik, berita PHK, dan ketidakpastian masa depan dapat memicu rasa tidak aman secara psikologis," beber Lahargo saat dihubungi detikcom Sabtu (16/5/2025).

Faktor biologis manusia turut memperparah kondisi ini karena otak dirancang untuk peka terhadap segala bentuk ancaman. Ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi kabar buruk, tubuh secara otomatis akan mengaktifkan mode waspada.

"Saat terus-menerus terpapar berita negatif, tubuh masuk dalam mode alarm, jantung berdetak lebih kencang, napas menjadi lebih cepat, otot menjadi tegang, pikiran overthinking, tidur terganggu, dan emosi jadi lebih mudah meledak," jelasnya.

Dampak buruk akan muncul jika tekanan ini dibiarkan tanpa adanya penanganan dalam jangka waktu yang panjang.

"Jika keadaan berlangsung lama maka dapat menimbulkan stres kronis, gangguan cemas, hopelessness dan akhirnya menyebabkan gangguan fungsional dan produktivitas," katanya.

Kendati demikian, kendali atas respons psikologis sepenuhnya berada di tangan masing-masing individu. Terdapat beberapa metode taktis untuk memelihara kesehatan jiwa di tengah badai ekonomi saat ini.

Salah satu langkah awal yang dianjurkan oleh dr Lahargo adalah mengerem aktivitas memantau pergerakan nilai mata uang secara berlebihan atau melakukan doom scrolling di media sosial.

"Terlalu sering doom scrolling atau memantau kurs setiap jam justru memperbesar kecemasan," ujarnya.

Masyarakat disarankan untuk lebih selektif dalam memilih media informasi yang tepercaya serta menetapkan batasan waktu harian dalam membaca berita.

Dibandingkan menghabiskan energi untuk mencemaskan krisis global, pengelolaan fokus sebaiknya dialihkan pada aspek-aspek riil yang dapat dikontrol secara mandiri.

"Lebih baik fokus pada hal konkret: mengatur pengeluaran, menabung lebih bijak, meningkatkan keterampilan, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta memperkuat relasi keluarga," katanya.

Langkah proteksi terakhir yang tidak kalah krusial adalah memanfaatkan sistem dukungan sosial dari lingkungan terdekat.

"Bicarakan kecemasan dengan pasangan, keluarga, atau teman yang suportif. Dukungan sosial adalah salah satu faktor protektif terbesar terhadap stres," pungkas Lahargo.

Artikel terkait

Rekomendasi