Dokter JEC Group Jelaskan Teknologi FLACS untuk Tangani Katarak

Dokter JEC Group Jelaskan Teknologi FLACS untuk Tangani Katarak
Foto: Ilustrasi Dokter JEC Group Jelaskan Teknologi FLACS untuk Tangani Katarak.

Gangguan penglihatan akibat katarak kini dapat ditangani menggunakan teknologi modern Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) guna mengoptimalkan kembali kualitas hidup pasien. Metode mutakhir ini diperkenalkan oleh JEC Group di Jakarta pada Rabu (20/5/2026) sebagai solusi komprehensif untuk menghilangkan kekeruhan pada lensa alami mata.

Katarak menjadi salah satu tantangan besar bagi kesehatan mata secara global maupun nasional. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2020 yang dilansir dari Investor Daily, katarak memengaruhi lebih dari 100 juta orang di dunia dan menyebabkan kebutaan pada 17 juta jiwa. Di Indonesia, hasil survei RAAB 2014ÔÇô2016 menunjukkan angka kebutaan pada populasi usia 50 tahun ke atas mencapai 3 persen, dengan katarak sebagai pemicu tertinggi sebesar 81,2 persen kasus.

Kepala Divisi Riset dan Pendidikan JEC Group, dr Nina Asrini Noor, SpM, menerangkan bahwa penyakit ini merupakan proses alamiah yang rentan dialami oleh kelompok lanjut usia.

"Katarak adalah kondisi kekeruhan pada lensa alami mata yang umumnya terjadi seiring bertambahnya usia," kata dr Nina Asrini Noor, SpM.

Selain faktor penuaan, dokter spesialis mata tersebut juga mengidentifikasi sejumlah elemen eksternal dan kondisi medis lain yang berpotensi mempercepat kerusakan lensa mata pasien.

"Selain usia, paparan sinar UV, kondisi minus mata yang tinggi, penggunaan obat tetet iritasi mata, dan penyakit diabetes juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami katarak," papar dr Nina Asrini Noor, SpM.

Secara spesifik, penderita diabetes memiliki kerentanan yang lebih tinggi karena efek jangka panjang dari kadar gula darah yang tidak terkontrol terhadap sistem pembuluh darah organ intim mata.

"Kondisi ini meningkatkan risiko katarak," jelas dr Nina Asrini Noor, SpM.

Melalui adopsi teknologi FLACS, penanganan medis tidak lagi sekadar berfokus pada pengangkatan lensa yang rusak melainkan bertransformasi menjadi perencanaan visi yang personal.

"Dalam satu dekade terakhir, kemajuan teknologi medis terus membuka jalan baru bagi kualitas hidup yang lebih baik, termasuk bagi mereka yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak. Dulu, operasi katarak sering dipahami sebatas mengangkat lensa yang keruh. Kini, dengan teknologi modern seperti FLACS dan pilihan lensa tanam yang semakin beragam, pasien tidak hanya dibantu untuk melihat kembali, tetapi juga untuk mendapatkan kualitas penglihatan yang lebih sesuai dengan aktivitas dan gaya hidupnya," jelas dr Nina Asrini Noor, SpM.

Prosedur FLACS mengandalkan laser berbantuan komputer guna menghasilkan sayatan yang sangat presisi sebelum lensa buatan atau intraocular lens (IOL) dipasang untuk menggantikan lensa alami.

"Presisi inilah yang menjadi salah satu nilai penting FLACS, terutama ketika operasi katarak tidak hanya bertujuan menghilangkan kekeruhan lensa, tetapi juga mengoptimalkan penglihatan setelah tindakan. Dengan perencanaan yang lebih terukur, dokter dapat menyesuaikan tindakan dengan kondisi mata pasien, termasuk anatomi mata, tingkat katarak, kebutuhan penglihatan, serta pilihan lensa tanam yang akan digunakan. Namun, teknologi hanyalah satu bagian dari keseluruhan pengalaman pasien. Hal yang tidak kalah penting adalah pemilihan lensa tanam atau intraocular lens/IOL yang tepat. Lensa inilah yang akan menggantikan lensa alami mata yang keruh, sehingga sangat berperan dalam menentukan kualitas penglihatan pasien setelah operasi," lanjut dr Nina Asrini Noor, SpM.

Pasien memiliki beberapa opsi IOL di JEC Eye Hospitals and Clinics yang disesuaikan dengan kebutuhan harian, mulai dari lensa monofokal, multifokal, EDOF, hingga jenis toric untuk penderita silinder.

"Melalui konsultasi ini, pasien dapat mengetahui kondisi matanya dan mengenali pilihan teknologi serta ragam lensa yang tersedia di JEC Eye Hospitals and Clinics yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien, sehingga, setelah tindakan operasi katarak, pasien dapat terbebas dari kacamata," jelas dr Nina Asrini Noor, SpM.

Artikel terkait

Rekomendasi