Dokter Eddy Widjaja Ingatkan Risiko Fatal Skincare Instan Seminggu

Dokter Eddy Widjaja Ingatkan Risiko Fatal Skincare Instan Seminggu
Foto: Ilustrasi Dokter Eddy Widjaja Ingatkan Risiko Fatal Skincare Instan Seminggu.

Keinginan mendapatkan kulit wajah cerah secara cepat sering membuat wanita mengabaikan keamanan produk kecantikan. Padahal, proses regenerasi kulit secara medis membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Dikutip dari Wolipop, memakai skincare yang menjanjikan hasil instan dalam seminggu tidak realistis. Tindakan ini berisiko merusak lapisan pertahanan kulit atau skin barrier hingga memicu kerusakan permanen.

Co-founder Eva Mulia Clinic, dr. Eddy Widjaja, mengungkapkan bahwa tren keinginan wanita untuk mendapatkan hasil instan sering kali menjadi bumerang. Menurutnya, proses regenerasi kulit yang sehat membutuhkan waktu, dan tidak ada formula ajaib yang bisa mengubah warna kulit secara aman hanya dalam kurung waktu beberapa hari.

"Kalau produk instan ya biasanya pasti kan cerahnya cepat ya. Mungkin dalam beberapa hari saja atau seminggu sudah, wah cerah banget gitu. Padahal, farmasi atau pabrik pun pusing, tidak bisa yang namanya 7 hari langsung glowing. Itu menggunakan bahan-bahan yang, tanda kutip, kurang bagus lah. Hasilnya memang instan, tapi jangka panjangnya pasti nanti bermasalah," ujar dr. Eddy Widjaja saat grand launching Eva Mulia Priority di Tebet, Jakarta Selatan (22/5/2026).

Banyak pasien tidak menyadari kulit mereka telah mengalami over-treatment atau kelebihan dosis bahan aktif berbahaya. Alih-alih berhenti, beberapa pasien justru meminta dosis lebih tinggi demi mempertahankan kecerahan wajah yang tidak alami.

"Saya sering bilang begini sama pasien, coba mari kita bandingkan wajah dengan tangan. Kalau (perbedaan warnanya) sudah terlalu jauh, saya rasa itu bukan pilihan lagi, berarti sudah over. Karakteristik dan DNA setiap individu itu berbeda-beda. Pada saat kita over, mungkin awal-awal oke, bagus. Nanti tanda-tanda salah atau over itu adalah mulai merasa kulit gampang sensitif, gampang merah, dan perih," tambahnya.

Jika penggunaan produk abal-abal atau dosis tinggi tersebut terus dipaksakan, kulit wajah akan mulai menunjukkan reaksi penolakan yang parah. Efek samping yang muncul tidak hanya berupa jerawat, melainkan kerusakan pigmen kulit yang sulit untuk disembuhkan.

"Efeknya bisa timbul bentol-bentol, jerawatnya banyak, hingga purging. Untuk jangka panjangnya, bisa timbul flek tebal atau melasma yang kita sebut okronosis (ochronosis). Okronosis itu flek hitam, tapi hitamnya seperti warna metal. Dan ujung-ujungnya, yang paling bahaya adalah risiko kanker kulit," jelas dr. Eddy.

Bagi pasien yang terlanjur mengalami kerusakan kulit, dr. Eddy menyarankan segera berkonsultasi ke dokter ahli. Pemakaian produk tidak boleh dihentikan mendadak tanpa pengawasan agar tidak memicu efek rebound atau radang yang lebih parah.

"Kalau sudah masuk ke tahap itu, lebih baik konsul untuk mengontrol kondisi. Biasanya pasien datang dalam kondisi meradang, alergi, atau kulitnya sudah hitam banget. Penanganannya perlu waktu, minimal 1 sampai 2 bulan untuk memperbaiki skin barrier. Kita tidak bisa langsung kasih treatment pengobatan berat, harus dicoba transisi dulu," tutupnya.

Artikel terkait

Rekomendasi