Umat Islam mengamalkan serangkaian doa Nabi Daud AS untuk memohon kelembutan hati seseorang serta mempererat hubungan yang renggang pada Rabu, 15 April 2026. Amalan ini merujuk pada mukjizat Nabi Daud yang mampu melunakkan besi keras dengan tangan kosong sebagaimana dikisahkan dalam kitab suci.
Dilansir dari Detikcom, Nabi Daud AS merupakan keturunan ke-12 Nabi Ibrahim AS yang dikenal sebagai pemimpin adil dan militer tangguh di Kota Bethlehem. Selain kemampuan melunakkan besi, ia dianugerahi suara merdu yang mampu menundukkan alam sekitar seperti gunung dan burung.
Pemberian karunia ini tercatat secara resmi dalam Al-Qur'an surah Saba' ayat 10 yang menjelaskan tentang ketundukan semesta kepada sang nabi. Allah SWT berfirman mengenai perintah bertasbih bagi gunung-gunung dan burung-burung yang mengiringi Daud.
"Sungguh, benar-benar telah Kami anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), "Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang kali bersama Daud!" Kami telah melunakkan besi untuknya." firman Allah SWT.
Ayat tersebut menjadi landasan keyakinan bahwa kekuatan spiritual dapat meluluhkan sesuatu yang keras, termasuk hati manusia. Syamsuddin Noor dalam literaturnya menyebutkan bahwa Nabi Daud juga mewariskan kepemimpinan kepada putranya, Nabi Sulaiman AS.
Terdapat bacaan singkat yang sering dipanjatkan umat untuk memohon kelembutan hati seseorang agar kembali harmonis. Doa ini mengaitkan permohonan tersebut secara langsung dengan mukjizat fisik yang pernah dialami sang nabi.
"Ya Allah, lembutkanlah hatinya sebagaimana Engkau melembutkan Daud (akan) besi." ujar Nabi Daud AS.
Teks tersebut diyakini menjadi sarana bagi hamba yang sedang menghadapi seseorang dengan karakter keras atau sulit menerima nasihat. Selain versi singkat, terdapat bacaan yang lebih panjang yang membandingkan ketundukan tersebut dengan penaklukan tokoh sejarah lainnya.
"Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mulia Maha Besar. Sedangkan aku hamba-Mu yang sangat hina dina. Tiada upaya dan kekuatan kecuali karena Engkau. Ya Allah, tundukkanlah (sebut nama orang yang dimaksud) padaku, sebagaimana Engkau telah menundukkan Firaun pada Musa AS. Dan luluhkan hatinya untukku, sebagaimana Engkau telah meluluhkan besi untuk Daud AS. Karena sungguh dia tidak akan berbicara kecuali dengan izin-Mu. Ubu-ubunnya dalam genggaman-Mu, dan hatinya di tangan-Mu. Pujian wajah-Mu telah Agung, wahai yang lebih sayang para penyayang." ucap Nabi Daud AS.
Abu Ezza dalam karyanya menekankan bahwa doa ini dapat dipanjatkan untuk memperbaiki jalinan kasih sayang antar sesama manusia. Nabi Daud sendiri dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin dalam mendekatkan diri kepada sang pencipta di setiap waktu hidupnya.
Sebagai bentuk rasa cinta yang mendalam, beliau juga memiliki permohonan khusus agar cinta kepada Tuhan melebihi segalanya. Hal ini menunjukkan sisi spiritualitas tinggi dari seorang raja yang juga ahli hukum tersebut.
"Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu untuk selalu cinta kepada-Mu, mencintai orang yang selalu mencintai-Mu, dan amal yang dapat menyampaikanku untuk mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta kepada-Mu melebihi cintaku terhadap diriku sendiri, keluarga, dan air yang dingin." kata Nabi Daud AS.
Amalan doa-doa ini masih terus dipelajari dan dipraktikkan oleh masyarakat sebagai bagian dari literatur islami mengenai sejarah para nabi. Fokus utama dari praktik ini adalah penyerahan diri secara total kepada kekuasaan Tuhan dalam menggerakkan hati manusia.